Desa Burai Oi Banyak Menyimpan Sejarah

16.118 dilihat

OGAN ILIR, buanaindonesia.com- Desa Burai kecamatan Tanjung Batu dengan jarak tempuh berkilo-kilo meter dari kota Kabupaten yang mayoritas masyarakatnya peladang dan petani ternyata menyimpan beragam peninggalan sejarah dan makam tua masa zaman kerajaan Sriwijaya

Salah satunya adalah pemakaman tua yang sudah ada sejak jaman nenek moyang mereka

Advertisement

Untuk sampai ke desa burai tadi nya bisa dilalui denagn tansportasi air seperti tongkang dan perahu, namun seiring dengan pemerataan pembangunan di wilayah OI, desa tersebut kini dapat di lalui kendaraan melalui perkantoran terpadu dan dari ibukota kecamatan tanjung batu sekitar dengan jarak tempuh 15 KM.

menurut ceritra nama desa burai sendiri diambil dari kata “Bumi Raja-Raja Islam” dimana pada zaman dahulu banyak perantuan dari bangsa arab, bangsa minang dan bangsa komering yang datang untuk berdagang, ataupun pelarian dan menetap di desa tersebut hingga beranak pinak

Masyarakat setempat percaya kuburan kuburan tua itu telah ada sejak nenek moyang masyarakat desa burai belum menempati yang notabene nya daerah perarairan dan berbukit.

Tercatat ada delapan makam tua di dalam desa burai namun makam yang terkenal dan sering didatangi peziarah dari luar kota makam puyang si darah biru dan makam tuan sait yang konon bermarga komering.

Makam tuan sait seringkali di kunjungi oleh marga komering yang berhajat datang untuk melihat makam puyang meraka, lain halnya dengan makam Sang darah  putih yang dipercaya oleh masyarakat setempat darah nya berwarna putih.

Namun  Hingga kini nama asli dari sang darah putih belum diketahui begitu juga  jenis kelamin nya. dan Makam makam tersebut dudah ada sejak zaman sriwijaya.

Namun sayang nya kondisi makam-makam bersejarah tersebut agak kurang terawat dan sedikit kumuh, diharapkan pemerintah kabupaten OI dan Pemerintah Provinsi Sumsel dapat mengagarkan perbaikan kondisi atap dan pagar dari kuburan kuburan bersejarah tersebut. Ungkap saili sekretaris desa Burai saat di bincangi media kemarin (2/2/2014).

Hal senada dikatakan Kepala Desa Burai, Feriyanto. Kondisi kedelapan makam tua tersebut kini tidak terawat dan memprihatinkan padahal makam tua tersebut sudah ada sejak zaman keemasan kerajaan sriwijaya.

Melalui publikasi media diharapkan agar kira nya pemerintah daerah OI, maupun pemerintah Provinsi Sumatera selatan dapat mengaggarkan rehab bangunan atap makam dan dindingnya agar kondisi peninggalan  bersejarah dapat terawat dan existensi nya tetap bertahan sampai 3-10 dekade mendatang.

Karna percaya atau tidak, benar ada nya atau tidak ada kebenaran nya, bangsa yang besar adalah bangsa yang mencintai pejuang dan tidak melupakan sejarah. Pungkas kepala desa (mie)

Advertisement