Di Coffe Morning, Menhan RI Minta Athan Dapat Menyampaikan Laporan Positif
BUANAINDONESIA.CO.ID, BANYUASIN -Menteri Pertahanan RI bersama para Irjen Kemhan,Warek UNHAN,Para Pejabat Kemhan dan TNI, Pangdam IX Udayana beserta Jajaran Para Atase Pertahanan, Atase Darat, Atase Laut, dan Atase Udara dari Negara-negara sahabat , menggelar Coffe morning di Bali. Selasa. (25/06/19). Dengan tujuan untuk mempererattali silaturahmi antar Negara dan Element pertahanan di Indonesia.
Ryamizard ryacudu atas nama pimpinan Kementerian Pertahanan menyampaikan ucapan selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri 1440 H / 2019 M kepada yang merayakannya. Ia berharap dapat meningkatkan tali silaturahmi dan kualitas keimanan kita kepada Allah SWT dan juga meningkatkan kepedulian kepada sesama.
“Pada kesempatan Coffee Morning tanggal 22 Januari lalu, saya sudah sampaikan kebijakan strategis pertahanan terkait dengan keamanan kawasan. Maka, pada kesempatan ini saya akan sampaikan perkembangan kebijakan strategis yang berpengaruh terhadap pertahanan, dan kebijakan kawasan. Perkembangan lingkungan strategis yang sangat dinamis turut mempengaruhi segala kebijakan pada lingkup global, regional, maupun nasional. Berbagai perkembangan situasi dan kondisi baik politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan serta adanya berbagai kepentingan yang didasari oleh geopolitik dan geostrategi negara terhadap negara lain antar kawasan dapat menjadi ancaman, gangguan ataupun peluang bagi suatu pemerintahan negara dalam rangka menjaga kepentingan nasionalnya. Terdapat berbagai fenomena yang terjadi di dunia internasional yang dapat mempengaruhi pengambilan kebijakan suatu negara. Begitupun dengan Indonesia. Dinamika perkembangan situasi luar negeri yang mempengaruhi kebijakan pertahanan Indonesia, antara lain: Pengembangan Senjata Strategis, Isu Radikalisme, Ekstrimisme, dan Terorisme, Perubahan Iklim, Isu Migran, Penyebaran dan Penyalahgunaan Narkoba serta Ketahanan Pangan, Air dan Energi.
Demikian pula dengan perkembangan situasi keamanan di berbagai Kawasan seperti di Amerika dan Eropa. Pada 2018, Presiden Donald Trump menyatakan menarik diri dari Traktat Nuklir Jarak Menengah atau Intermediate-Range Nuclear Forces (INF). Keputusan AS menarik diri dari kesepakatan INF dapat menimbulkan permasalahan baru berupa perlombaan pengembangan senjata nuklir di dunia.
Situasi pertahanan dan keamanan di kawasan Eropa semakin meningkat ketegangannya dengan eskalasi latihan militer baik oleh koalisi Rusia dan negara sekutunya dalam latihan militer gabungan terbesar Rusia sejak era Uni Soviet (Vostok-2018) yang dilakukan bersama China dan Mongolia di wilayah Rusia Asia Pasifik (Timur), dan latihan gabungan NATO di kawasan Eropa Timur dan Baltik (Saber Strike & Trident Juncture-2018). “Ucap, Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu. Saat memberikan sambutan dihadapan para tamu undangan, Selasa. 25/06/19”. Katanya.
Ditambahkannya, Untuk kawasan Asia Pasifik seperti di Asia Barat, perkembangan situasi di Timur Tengah saat ini di warnai sejumlah konflik di antaranya konflik Palestina-Israel, Suriah, dan Yaman.
“Selain itu, adanya ketegangan situasi Iran dengan Amerika Serikat yang semakin memanas dengan pengerahan kapal induk USS Abraham Lincoln ke Teluk Persia dan pengiriman pasukan militer AS ke Timur Tengah untuk memberi tekanan militer kepada Iran. Sebaliknya Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz jika Iran diserang. Sementara di kawasan Asia Timur, permasalahan Semenanjung Korea masih menjadi persoalan bagi kawasan Asia Pasifik. Pembicaraan damai antara dua Korea belum menghasilkan kemajuan yang berarti. Sedangkan permasalahan keamanan di Laut China Timur (LCT) masih terus berlangsung berupa sengketa perbatasan dan klaim kepemilikan wilayah antara China, Taiwan dan Jepang terkait status kepemilikan kepulauan Senkaku/Diaoyu.” imbuhnya.
Masih dikatakannya, Terkait perkembangan situasi di Asia Tenggara, khususnya situasi di Laut China Selatan saat ini semakin menjadi perhatian dengan adanya pembangunan fasilitas militer di sejumlah pulau buatan oleh China dan kehadiran kapal-kapal perang negara-negara asing seperti AS, Inggris, Perancis, India dan Australia di perairan Laut China selatan.
“Terkait dengan hal itu, ASEAN berupaya membantu penyelesaian konflik di Laut China Selatan dengan mendorong penyelesaian Code of Conduct (CoC) di Laut China Selatan dengan memfasilitasi pembahasan CoC antara negara yang bersengketa. Selain itu, isu terorisme juga masih menjadi perhatian utama bagi negara-negara Asia Tenggara khususnya pasca kekalahan Daesh atau ISIL di Irak dan Suriah karena kembalinya ribuan militan asing / Foreign Terrorist Fighter (FTF) ke negara asalnya termasuk di Asia Tenggara.
Kembalinya para militan asing tersebut menjadi ancaman utama di berbagai kawasan. Peristiwa Marawi pada tahun 2017, menjadi tonggak awal bagi pembentukan kerja sama yang lebih erat dalam menghadapi ancaman terorisme di Asia Tenggara. Dalam kaitan tersebut, kerja sama regional didorong untuk lebih aktif dalam mengantisipasi ancaman tersebut, sehingga melahirkan beberapa kerja sama minilateral, seperti sub-regional meeting dan forum beberapa negara-negara ASEAN.
Sampai dengan saat ini, forum-forum tersebut telah membantu mendorong terciptanya kerja sama Trilateral Indomalphi antara Indonesia, Malaysia dan Filipina serta kerja sama intelijen dan pertukaran informasi strategis Our Eyes Initiative. “Paparnya.
Menhan menegaskan, Our Eyes Initiative, diawali dengan pengukuhan 6 negara yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Brunei Darrusalam, Singapura dan Thailand. Dalam forum ADMM ke 12 tanggal 18-20 Oktober 2018 resmi diikuti 10 negara Asean dan resmi menjadi salah satu kegiatan ADMM dan ADMM Plus dengan nama ASEAN Our Eyes. Kerjasama pertukaran informasi strategis ini terkait dengan Counter Terrorism dan Radicalism guna mengantisipasi aksi-aksi yang terus berkembang.
“Seluruh negara peserta Our Eyes menyetujui penggunaan ASEAN Direct Communication Infrastructure (ADI) sebagai media komunikasi Our Eyes serta pengintegrasian Platform Asean 365 sebagai Online Intelligence Sharing antar militer Asean. “Imbuhnya lagi,
Ditegaskan oleh Menteri Asli Putra Palembang ini, Terkait Perkembangan situasi dalam negeri saat ini di bidang politik Indonesia telah menyelenggarakan rangkaian kegiatan Pemilu 2019 dengan aman dan lancar.
“Hasil akhir pemilu presiden dimenangkan oleh pasangan Joko Widodo dan Ma’ruf Amin untuk periode 2019-2024. Namun, proses Pemilu 2019 belum sepenuhnya selesai dengan adanya proses hukum di Mahkamah Konstitusi mengenai sengketa hasil Pemilu 2019, Dalam bidang Sosial Budaya yang cukup menonjol antara lain maraknya kasus ujaran kebencian, intoleransi, hoax, pelanggaran UU ITE, peredaran narkoba, kerusakan lingkungan hidup, bencana alam, dan penyakit sosial seperti, pornografi dan perkelahian antar warga (tawuran). Dalam bidang Pertahanan dan Keamanan dapat disampaikan bahwa Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata Papua (KKSB) masih menjadi tantangan bagi bangsa Indonesia dalam membangun wilayah Papua. Gangguan kelompok separatis masih sering terjadi meskipun dengan intensitas rendah dan dilakukan secara sporadis. Serangkaian penangkapan terhadap terduga terorisme menjelang dan sesudah pelaksanaan Pemilu 2019 telah dilakukan oleh aparat keamanan. Di antaranya penangkapan pelaku teror di Sibolga Sumatera Utara, Ciracas, Bekasi, Bogor, dan beberapa tempat lainnya. Jaringan teror tersebut diduga akan menjalankan aksinya pada saat kegiatan Pemilu berlangsung. Namun demikian situasi keamanan Indonesia secara umum masih aman terkendali. Selain permasalahan separatisme dan terorisme, hingga saat ini, Indonesia masih memiliki permasalahan lain dalam bidang perbatasan darat dengan negara Malaysia, PNG, dan RDTL. Isu yang cukup menonjol adalah penyelundupan, pelintas batas ilegal, pergeseran patok perbatasan dan sengketa batas wilayah. Sedangkan untuk perbatasan laut sampai saat ini masih terjadi tumpang tindih batas Laut Territorial, Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dan Landas Kontinen dengan beberapa negara. Dinamika perkembangan lingkungan pada tataran strategis yang terjadi menunjukkan eksistensi potensi ancaman belum nyata atau perang terbuka di berbagai kawasan global. Ancaman pada lingkup global tersebut juga memberikan pengaruhnya pada tataran regional, sehingga terdapat urgensi untuk menjadikannya sebagai kewaspadaan nasional. Eksistensi ancaman belum nyata tersebut tidak berdiri sendiri, namun akan selalu beriringan dengan ancaman nyata untuk kepentingan lain, yaitu kepentingan IPOLEKSOSBUD, Teknologi, Keselamatan Umum, dan Legislasi, sehingga dengan wujud ancaman yang akan timbul dapat berupa ancaman belum nyata, ancaman nyata maupun ancaman terhadap mindset.
Demikian penjelasan saya tentang Perkembangan Situasi Keamanan Luar dan Dalam Negeri yang mempengaruhi kebijakan pertahanan Indonesia. Saya berharap forum ini dapat menjadi sarana untuk mempererat kerjasama yang sudah terjalin selama ini. “Ujarnya.
“Sebagai tambahan sebagaimana yang anda bersama bahwa pada tanggal 28 Juni 2019 yang akan datang Mahkamah Konstitusi RI akan mengumumkan hasil sidang terkait sengketa Pemilu 2019. Besar harapan saya bahwa para Athan dapat menyampaikan laporan positif terkait kondisi di Indonesia. Akhirnya, marilah kita memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, kiranya kita sekalian senantiasa diberikan petunjuk dan bimbingan-Nya dalam melanjutkan tugas dan pengabdian kepada negara dan bangsa kita masing-masing.” tukasnya.







