Sudrajat : Petani Belum Sejahtera, Manisnya Keuntungan Masih Dinikmati Tengkulak

20.521 dibaca
Sudrajat menyempatkan diri berfoto disela sela dialog dengan para petani di Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Kamis, 8 Maret 2018.

BUANAINDONESIA.CO.ID, BANDUNG  – Saat ini mayoritas petani di Jawa Barat belum hidup sejahtera. Bahkan, sebagian hidup dalam kondisi memprihatinkan. Berbeda dengan kondisi para petani di luar negeri yang mayoritas hidup sejahtera, bahkan kaya raya. Salah satu yang menyebabkan perbedaan signifikan tersebut adalah sistem pertaniannya. Kata Calon Gubernur Jawa Barat nomor urut 3, Mayjend TNI (Purn) Sudrajat, Jumat, 9 Maret, 2018

Advertisement

“Pertanian kita ke depan harus menerapkan industri pertanian. Artinya petani itu tidak boleh menjual barang mentah. Tapi yang dijual adalah barang yang sudah jadi sehingga petani memiliki nilai tambah,” tutur Sudrajat saat melakukan dialog dengan para petani di Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Dirinya menyarankan agar para petani sayuran jangan lagi menjual hasil pertanian mereka kepada para tengkulak. Namun, petani langsung menjual kepada para pedagang, pasar atau supermarket setelah sebelumnya sayuran hasil panen mereka dikemas. Menurutnya dengan dikemas, petani jadi punya nilai tambah. Sehingga rantai distribusi dapat dipangkas.

“Selama ini kan rantainya terlalu panjang. Kalau seperti itu, petani kita bisa sejahtera,” ujar pria yang akrab disapa Kang Ajat itu.

Menurutnya yang menikmati manisnya keuntungan dari sektor pertanian adalah para tengkulak dan pengepul. Pasalnya, mereka membeli dengan sangat murah dari petani dan kemudian menjual hasil pertanian itu dengan harga tinggi kepada para pedagang.

Namun untuk mengarahkan para petani kepada industri pertanian diperlukan upaya pendampingan dan pembinaan serius dari pemerintah. Sebab, para petani mayoritas masih melakukan pola pertanian tradisional yakni menanam, memanen lalu menjualnya kepada tengkulak.

“Ke depan pemerintah harus melahirkan kebijakan yang sejalan. Dari Kementerian sampai kabupaten/kota itu kebijakannya harus sama. Petani juga harus dikenalkan dengan teknologi supaya produktifitasnya juga meningkat,” ujar Ajat.

Selain itu susah memperoleh bibit, mahalnya harga pupuk, mahalnya biaya produksi, persoalan cuaca hingga susah menjual hasil produksi pertanian, kata Sudrajat, merupakan sekelumit kendala yang selalu dihadapi para petani. Kendala-kendala itu harus diatasi pemerintah.