BUANAINDONESIA.CO.ID, GARUT – Photo seorang anak yang sedang mengaji di Jl. Braga dengan kaki ditutup karung untuk melindungi kakinya dari hujan sempat viral di media Sosial, dari photo tersebut terlihat bahwa anak tersebut adalah seorang pemulung.
Adalah pengurus Pondok Pesantren Al Hilal Geger Kalong Bandung yang mencoba mencari anak tersebut hingga bertemu didaerah Lembang pada selasa (03/11).
Setelah pemulung tersebut diajak ke pondok pesantren Al Hilal, barulah diketahui bahwa anak tersebut berasal dari Kabupaten Garut.
Pengurus ponpes Al Hilal pun mengantar akbar pulang kerumah neneknya di Kp. Sodong Kelurahan Muarasanding Garut. Rabu 4 November 2020 sore akbar beserta pengurus Ponpes Al Hilal tiba dirumah kakeknya Akbar dan melakukan perbincangan panjang dengan kakek, nenek, ayah dan bibinya akbar, cerita perjalanan hidup akbar sejak lahir hingga menjadi petualang dijalan saat ini.
Muhammad Ghifar Akbar atau dia lebih suka dengan nama Ghifar Al Ghifari, begitu pernyataan pertamanya ketika saya (Mamun Gunawan) bertemu diujung gang rumahnya Kamis pagi (05/11). Alasannya nama itu akan selalu mengingatkan dirinya akan dosa, sehingga terus mensemangatinya untuk terus mengaji, dimanapun berada.
Usianya 16 tahun saat ini. Ibunya bernama SITI dan telah meninggalkannya sejak usia 8 bulan, dengan alasan mau menjadi TKW ke arab. Akbar lebih banyak diasuh oleh kakek (Aki iji) dan neneknya (Emak Uti), karena neneknya tidak tega melihat akbar diperlakukan kurang baik oleh ibu tirinya.
Akbar sempat ikut tinggal dengan Bibinya di Kecamatan Singajaya, namun bibinya sering kehilangan akbar karena akbar banyak berdiam bahkan tidur di gunung hingga akhirnya akbar kembali kerumah neneknya.
Diusia sekitar 11 tahun atau kelas 4 SD, akbar memutuskan keluar sekolah dari SD Negeri Muarasanding 1, dia acapkali kabur dari rumah untuk mencari ibunya tanpa dibekali informasi bagaimana ciri-ciri fisik Ibunya, apalagi photo, hingga saat ini akbar sudah merasa putus asa dan tidak lagi peduli tentang keberadaan ibunya.
Akbar belajar ngaji dari Bapaknya (Unan, 42 tahun) dan neneknya. Bapaknya dan Kakek-Neneknya selalu berpesan agar akbar tidak meninggalkan Shalat dan Mengaji.
Memang Makhraz dan Tajwid akbar masih agak belepotan, namun suaranya ketika mengaji cukup merdu dan enak didengar.
Berbekal pesan orang tuanya, Akbar berkelana dijalanan. Pernah mengamen hingga gitarnya dirampas orang. Menjadi pemulung dengan bermodal karung dan berjalan kaki, Akbar hidup sendiri di jalan dengan cara berfikir nya sendiri. Sering dipalak preman, akbar serahkan uang hasil kerjanya memulung barang bekas. biarlah mungkin uang itu bukan rezeki saya, yang penting saya selamat, prinsip Akbar.
Akbar hanya bermodalkan jalan kaki. Beberapa kali diajak orang, jika hatinya mengiyakan dia ikuti ajakan tersebut. Hingga pernah menyeberang laut ke Lampung, pernah juga sampai ke Bantul. Akbar tetap jadi pemulung.
Dan akbar tetap mengaji setelah sholat dan saat merasakan perutnya lapar agar tidak terasa lapar, berhenti mengaji ketika rasa laparnya terusir dari perut meskipun tetap saja belum makan.
Kerasnya hidup dijalan tidak membuat akbar gentar, akbar bahkan tidak pernah punya teman apalagi gank di jalanan.
” Saya mah selalu sendiri, kemana-mana sendiri dan jalan kaki, pernah ke Lampung ada yang ngajak di jalan tapi sampai lampung juga sendiri lagi. Kalau dari garut berangkat ke bandung, empat hari perjalanan karena sambil cari pulungan, ujar Akbar.
” Saya tidak punya cita-cita, tapi saya punya niat. Niat saya ingin belajar ngaji lagi dan punya pesantren. Itulah penggalan akhir yang diucapkan Akbar.










