Banjir Astaanyar Runtuhkan Mushola Dan Rusak Rumah Warga

29.426 dibaca

BUANAINDONESIA.CO.ID, BANDUNG- Hujan deras yang terjadi pada Kamis kemarin, 22 Februari 2018, menyisakan duka bagi masyarakat Kelurahan Cibadak, Kecamatan Astana Anyar, Kota Bandung. Hal tersebut lantaran banjir luapan sungai Citepus di kawasan Pagarsih melimpas daerah tersebut.

Advertisement

Berdasarkan hasil data dari tim asesmen gabungan Dinas Pemadam Kebakaran, Dinas Kesehatan, dan Dinas Pekerjaan Umum Kota Bandung, hingga Jumat pagi 23 Februari 2018, sedikitnya 202 jiwa dari 199 KK merasakan dampak kerugian dari peristiwa itu.

Lurah Cibadak, Iwa Kartiwa mengatakan hujan deras yang turun dari sore hingga malam hari tersebut, telah menyebabkan banjir di delapan RW. Namun banjir terparah dirasakan RT 01, 02 dan 03 di RW 07, dan RT 03 di RW 06, dengan ketinggian air sampai 1,5 meter.

“Dari 22 tahun banjir di sini, semalam, sekitar jam delapan itu, bisa disebut termasuk yang terparah, karena air dari sungai Citepus masuk sampai ke dalam rumah warga. Setelah banjir di Tahun 2016 lalu, yang menelan kerugian materiel dua buah mobil hanyut,” ujarnya saat ditemui di sekitar lokasi kejadian.

Bahkan, lanjut Iwa,  akibat dari banjir tersebut telah menyebabkan kerusakan beberapa infrastruktur warga, seperti robohnya sebuah mushola dengan ukuran 3×4 meter yang berdiri di bantaran Sungai Citepus Pagarsih, dua rumah rusak sedang, dan satu buah sumur tercemar, dengan perkiraan kerugian materiel mencapai kurang lebih Rp 2 sampai 3 miliar.

“Ke depan mushola itu tidak akan lagi dibangun, karena dipindahkan ke lokasi lain, dan lokasi itu diganti dengan dinding-dinding pemisah, yaitu berupa kirmir untuk mencegah dampak banjir berikutnya,” sambungnya.

Sementara, dampak banjir ini karena adanya pembangunan tol air Pagarsih yang baru saja diresmikan oleh Pemerintah Kota Bandung, Iwa pun membantahnya. Menurutnya, dengan adanya tol air itu justru berdampak positif dan mengurangi resiko seperti banjir di tahun-tahun sebelumnya.

“Jadi itu (banjir) semalam karena debit air yang terlalu tinggi saja, padahal sudah ada upaya pencegahan dengan adanya perbaikan Jalan Pagarsih dan adanya tol air yang baru dibangun,” ujar Iwa.

Editor: NA