Dipandeglang Masih Ada Siswa Berangkat Sekolah Lintasi Jembatan Bambu Sepanjang 75 Meter

1.836 dibaca

BUANAINDONESIA.CO.ID, PANDEGLANG – Ironis sekali dijaman sekarang masih ada Jalan dan Jembatan yang belumbtersentuh pembangunan oleh Pemerintah, padahal jalan dan jembatan tersebut satu satunya akses yang di lalui setiap hari oleh puluhan pelajar mulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) mereka harus pertaruhkan nyawa ketiak melintasi Jembatan sepanjang 75 Meter yang terbuat dari Bambu. Menurut keterangan warga sekitar, jembatan Bambu sepanjang 75 meter sering menlan korban.

Apalagi kalau dimusim hujan, jalan berlumpur dan Jembatan Bambu tersebut licin, padahal Jembatan tersebut menghubungkan Desa Parung Kokosan dengan Desa Sukamulya Kecamatan Cikeaik Kabupaten Pandeglang Banten.

Kalau dimusim penghujan masyrakat terisolir tidak bisa beraiktifitas dan anak sekolah sering kali diliburkan, ini demi keselamatan anak-anak yang kalau berangkat kesekolah melintasi jembatan tersebut.

” Sekarang mendingan musim kemarau, tapi kalau musim hujan datang kami selaku orang tua waswas, karena anak kami kalau mau ke sekolah melalui Jembatan tersebut,” Demikian dikatakan Heri warga asal Desa Parung Kokosan kepada awak media.

Menurutnya, Jembatan yang terletak di Kampung Cikaman, selain sebagai akses jalan utama juga merupakan jalan penghubung antara Desa. Parung Kokosan dan Desa Sukamulya, Kecamatan Cikeusik.

” Maka harapan kami minta k pada Pemerintah Kabupaten Pandeglang untuk segera mbangun Jembatan tersebut, agar kami juga bisa merasakan pembangunan seperti di Daerah lainnya,” Ungkapnya

Heri berharap, adanya perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten, Provinsi maupun dari Pemerintah Pusat, kami sangat berharap Jalan dan Jembatan tersebut bisa di bangun minimal di Tahun 2020.
” Semoga di Tahun 2020 harapan kami bisa terlaksana, Jalan dan Jembatan tersebut bisa di bangun,” pungkasnya.

Melisa salah satu pelajar, yang masih duduk dibangku Sekolah Dasar , sering kali didampingi orang tua mereka disaat menyebrangi jembatan tersebut, sekarang musim kemarau tidak terlalu menghawtirkan, tapi kalau di musim hujan sungai ini seringkali meluap dan jembatan bambu ini sering juga hanyut.

” Karena takut setiap hari saya selalu didampingi orang tua karena takut jatuh, terutama dimusim penghujan kami pasti di antar sama orang tua kami, padahal orang tua kami juga harus kesawah dan keladang untuk mencari napkah, kalu sudah banjir kami sering tidak masuk sekolah,” jelasnya.

Melisa juga berharap mudah-mudahan jalan dan Jembatan segera dibangun seperti jembatan-jembatan lainnya sehingga kami tidak lagi merasa takut ketika melintas dijembatan tersebut.

,” Kami berharap sekali kepada Ibu Bupati agar segera di bangun jembatan ini, agar kami dalam mengenyam pendidikan tidak terganggu, tidak di hantui rasa takut ketika melintasi Jembatan ini,” Papar Melisa dengan penuh harapan.