Dokumen Dugaan Kecurangan Dirinya, Ini Kata Dede Ita

11.611 dibaca

BANDUNG, BuanaIndonesia.com – Terkait kebocoran dokumen yang berisi dugaan kecurangan dirinya, kepala desa ( Kades ) Karyalaksana Kecamatan Ibun Kabupaten Bandung, mengaku tidak mengetahui perihal dokumen tersebut.

Kades Karyalaksana Dede Ita mengatakan dokumen tersebut mungkin hasil rekayasa

Advertisement

“Rekayasa itu pak, tidak ada permasalahan disini ” Kata Dede

Lebih lanjut Dede menjelaskan permasalahan yang ada di dokumen tersebut sudah selesai

“Bahkan kapolsek mengatakan kalau ada yang mempermasalahkan itu ( sejumlah temuan dugaan penyelewengan dana dan ketidaktransparanan kades ) akan berhadapan dengan saya ” Tambah Dede menirukan perkataan kapolsek

( Baca : Dokumen Kecurangan Kepala Desa Karyalaksana Ibun Bocor Ke Media Massa )

Pada senin (16/05) redaksi BuanaIndonesia.com mendapati dokumen berisi berbagai kecurangan yang dilakukan kepala desa Karyalaksana Kecamatan Ibun Kabupaten Bandung. Dokumen ini bocor menyusul kekesalan warga atas dugaan kecurangan yang dilakukan kepala desa mereka.

Dokumen berisi 20 halaman ini mengungkap hasil rapat Badan Permusyawaratan Desa ( BPD ) Karyalaksana, pernyataan warga dan tokoh masyarakat atas ketidaktransparanan kepala desa, surat pernyataan kepala desa Karyalaksana  yang bersedia mundur jika tidak dapat membuktikan kebenaran laporan pertanggungjawabannya hingga berita acara pemberhentian kepala desa oleh warga dan BPD disana.

Pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ahmad Heri menilai dana trasfer ke daerah dan dana desa rawan terjadi penyimpangan. Dalam RAPBNP 2016 pemerintah menaikan dana transfer ke daerah dan dana desa  dengan total Rp 782,2 triliun atau naik Rp 117,6 triliun dari APBNP 2015 sebesar Rp 664,6 triliun.

“Dari awal dana daerah itu rawan, karena langsung ke kepala desa. tentu kita belum tahu kualitas pengelolaan dana di desa oleh masing-masing kepala desa. Itu tentunya rawan terjadi penyimpangan, misalnya seharusnya digunakan untuk produktif malah konsumtif,” kata Ahmad Heri.