Elektabilitas “Wali Kota Taman” Ungguli Tiga Paslon Lain

11.980 dibaca
Direktur Charta Politika Yunarto Wijaya saat presentasi hasil survei lembaganya mengenai elektabilitas calon wali kota dan calon wakil wali kota pada Pilkada Kota Bogor tahun 2018, Rabu 11 April 2018.(BUANA INDONESIA NETWORK/Acep Mulyana).

BUANAINDONESIA.CO.ID, BOGOR- Lembaga survei Charta Politika Indonesia merilis hasil survei terbaru elektabilitas Calon Wali Kota-Calon Wakil Wali Kota Bogor Tahun 2018, Rabu, 11 April 2018. Hasil survei menempatkan pasangan calon (paslon) nomor urut 3 Bima Arya Sugiarto – Dedie Abdul Rachim berada di posisi teratas.

Charta Politika menemukan beberapa temuan menarik dalam surveinya. Dari sisi popularitas (tingkat pengenalan), Bima Arya di posisi pertama 77,8 persen dan di urutan kedua Ahmad Ru’yat 10,5 persen. Sedangkan calon lainnya di bawah 3 persen.

Advertisement

Temua kedua, survei Charta Politika juga menunjukkan Bima Arya sebagai calon petahana paling disukai di posisi 65,0 persen dan disusul Ahmad Ru’yat di angka 11,5 persen.

Tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor tergolong tinggi, yakni 78,5 persen dan tersebar merata di setiap Daerah Pemilihan (Dapil). Demikian halnya dengan kinerja Bima Arya selama menjadi Wali Kota Bogor dari 2013-2018, tingkat kepuasannya mencapai 71,8 persen.

“Di antara banyak program Pemkot Bogor yang dinilai paling memuaskan adalah penataan kota dengan renovasi taman dan RTH dan penataan pedestrian. Menurut saya, Bima Arya ini cocok menjual brand ‘wali kota taman’,” kata Direktur Charta Politika, Yunarto Wijaya, di Hotel Royal Pajajaran, Kota Bogor.

Yunarto Wijaya memaparkan, berdasarkan pengalaman survei, apabila kinerja petahana bagus ditambah kepuasan publik tinggi maka peluang incumbent dalam kontestasi berpeluang sangat besar.

“Terkecuali ada tsunami politik seperti di DKI Jakarta,” ungkapnya.

Temuan ketiga, sambung Yunarto, adalah elektabilitas atau tingkat keterpilihan. Lagi-lagi Bima Arya menempati posisi pertama di angka 61,0 persen dan di urutan kedua Ahmad Ru’yat yang juga mantan Wakil Wali Kota Bogor 14,8 persen.

Meski tingkat pengetahuan masyarakat mengenai Pilkada di Kota Bogor berada di atas 80 persen, namun tingkat kemantapan pilihan masyarakat masih berada di bawah 50 persen.

“Hal ini mengindikasikan bahwa pilihan jumlah swing voters masih cukup tinggi di Kota Bogor. Swing voters ini adalah pemilih yang sudah menentukan pilihan tetapi masih bisa berubah,” ungkap dia.

Dari hasil survei, warga Kota Bogor juga sangat mengharapkan lapangan kerja, sembako murah, serta ingin penyelesaian kemacetan.

“Pengumpulan data survei kami lakukan dari tanggal 1-5 Maret 2018 melalui wawancara tatap muka dengan menggunakan kuesioner terstruktur. Sedangkan jumlah sampel melibatkan 400 responden yang tersebar di enam kecamatan di Kota Bogor. Survei ini menggunakan metode acak bertingkat dengan margin of error 4,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen,” tegas Yunarto Wijaya.