Garut Dorong Hilirisasi Jagung dan Singkong untuk Bahan Baku Bioethanol

272 dibaca

BUANAINDONESIA.CO.ID, Jakarta – Potensi sektor pertanian Kabupaten Garut diarahkan untuk mendukung pengembangan energi alternatif melalui program bioethanol. Pemerintah Kabupaten Garut menyatakan siap menyiapkan dukungan lahan dan komoditas pertanian sebagai bahan baku, menyusul adanya peluang pembangunan fasilitas pengolahan di daerah.

Advertisement

Komitmen tersebut disampaikan Bupati Garut Abdusy Syakur Amin setelah menghadiri rapat koordinasi Program Khusus Pemerintah untuk Bioethanol di Jakarta Selatan, Senin (21/9/2026).

Dalam koordinasi tersebut, Garut mendapat peluang untuk pengembangan pabrik bioethanol serta fasilitas pengolahan singkong. Kehadiran industri tersebut diharapkan tidak hanya mendukung kebutuhan energi, tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian dan menciptakan kesempatan kerja bagi masyarakat.

Syakur mengatakan, ketersediaan komoditas pertanian menjadi salah satu alasan Garut memiliki peluang untuk terlibat dalam program tersebut. Kabupaten Garut selama ini memiliki produksi jagung yang cukup besar di Jawa Barat.

“Informasi yang kami terima, ada peluang pembangunan pabrik bioethanol dan pabrik singkong di Garut. Ini tentu bisa mendorong masyarakat untuk lebih meningkatkan penanaman singkong dan jagung,” ujar Syakur.

Ia menambahkan, pengembangan industri berbasis pertanian diharapkan dapat menciptakan rantai ekonomi baru dari sektor budidaya hingga pengolahan. Selain meningkatkan produktivitas petani, keberadaan pabrik juga diharapkan memberikan dampak terhadap penyerapan tenaga kerja.

Pemkab Garut sendiri telah menyiapkan sejumlah langkah untuk mendukung program tersebut. Saat ini sekitar 60 ribu hektare lahan dikelola untuk kepentingan ketahanan pangan. Pemerintah daerah juga merencanakan tambahan sekitar 15 ribu hektare lahan untuk penanaman jagung yang diarahkan sebagai bahan baku energi.

Sementara untuk komoditas singkong, Pemkab Garut mengalokasikan sekitar 12 ribu hektare lahan guna mendukung pengembangan bahan baku bioethanol.

Menurut Syakur, kesiapan tersebut turut ditopang oleh kebiasaan masyarakat Garut dalam mengembangkan sektor pertanian, khususnya tanaman jagung. Karena itu, program bioethanol dinilai dapat menjadi bagian dari upaya menghubungkan potensi pertanian dengan kebutuhan industri energi.

Di sisi lain, Pemkab Garut membuka peluang koordinasi lanjutan dengan pemerintah pusat terkait kebutuhan lahan. Apabila diperlukan penambahan areal, pemerintah daerah akan membahas kemungkinan pemanfaatan kawasan perhutanan sesuai dengan ketentuan dan program pemerintah.

“Kami menyambutnya dengan optimistis. Ada berbagai kemudahan yang disampaikan pemerintah pusat, termasuk terkait kawasan perhutanan untuk ketahanan pangan. Kalau masih membutuhkan tambahan lahan, tentu akan kami koordinasikan dengan Kementerian Kehutanan,” kata Syakur.

Bupati Garut juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat atas perhatian terhadap potensi daerah. Ia berharap rencana pembangunan fasilitas pengolahan tersebut dapat segera ditindaklanjuti sehingga memberikan manfaat bagi sektor pertanian, energi, dan perekonomian masyarakat Garut.