Kasus Pasien Riska. Pemerintah Pura-Pura Buta Tuli?

16.588 dibaca
BUANAJABAR.COM, PANDEGLANG –
Kabar memilukan  datang dari keluarga miskin Riska (16) Wati warga Kampung Cikole, Kelurahan Kabayan, Kecamatan Pandeglang. Riska, penderita tumor pembulu darah. Gegara itu pula kini membuat bokong dan perutnya membuncit. Namun petugas kesehatan tepatnya bidan ditempat tersebut cuek, padahal kondisi Riska sudah diketahui sudah lama, karena kediaman Riska dekat dengan pos Posyandu.
Akbar, paman Riska menjelaskan bahwa para bidan dan kader di posyandu   sudah mengetahui kondisi Riska saat ini, namun tidak ada tindakan atau apapun yang dilakukan oleh para bidan.
“ Kalau bantuan dari pemerintah hanya memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS), bidan juga tahu namun tidak ada tindakan mungkin itu bukan bagiannya kali yang ahirnya cuek bebek, karena mungkin kami dianggap tidak punya uang,” ujarnya
Wati ibu Riska menceritakan,  sejak Riska berusia lima tahun sudah ada benjolan kecil dipunggungnya,  dari waktu ke waktu  kondisinya semakin membesar. Sempat dibawa ke RSCM Jakarta menggunakan Jamkesmas pada tahun 2010 lalu  namun tidak sampai di operasi lantaran keterbatasan ekonomi. Apa lagi penghasilan ayahnya Riska juga tidak mencukupi karena bekerja hanya sebagai tukang kuli bangunan,  untuk kebutuhan sehari-hari saja sulit.
“ Benjolannya saat ini terus membesar ditubuh Riska, meski Riska sering bercerita tidak sakit namun saya sering kasihan melihatnya. Bahkan saya juga tidak menyekolahkanya karena Riska juga tidak mau lantaran  takut di ejek teman-temanya,” tuturnya.
Paman Riska, Evi  menambahkan,  saat dibawa ke RSCM  Riska tidak sampai di operasi dengan alasan kamar penuh. Karena tidak mampu untuk biaya selama dirumah sakit akhirnya kembali dibawa pulang dengan tangan kosong. Sejak itulah riska tidak pernah lagi dibawa berobat hanya menjalani pengobatan secara tradisional.
” Bukan tidak mau mengobati Riska, karena kami gak punya biaya disana,  akhirnya kita pulang kembali,” tambahnya