Menjaga Lisan

8.123 dibaca

“ Berkatalah yang benar dan baik, atau tidak berkata apa-apa”. Demikian Rasulullah mengisyaratkan kepada kita. Isyarat yang sarat makna itu menjadi pedoman bagi kita untuk tetap santun dalam berkata, dan tidak pernah menebar pesan kebencian. Berkata memang menjadi fasilitas pergaulan dengan sesama yang tetap teruji paling efektif. Ia tetap digunakan meski media telah berlari meninggalkan kehidupan. Pertanyaan sederhananya, mengapa Rasulullah menggunakan istilah “lidah” untuk mewakili aktivitas berkata ini? Lidah, seperti disebutkan di atas, merupakan satu dari sedikit media untuk berkomunuikasi.

Advertisement

Secara fisik, lidah adalah salah satu anggota badan yang banyak menentukan dan sekaligus mencerminkan kualitas moral dan keimanan seseorang. Ia memerankan fungsi strategis bagi kebutuhan hidup manusia. Ia fasilitas yang dapat mengirimkan pesan-pesan yang dibutuhkan dan pada saat yang sama, ia juga kerap dapat menyakitkan. Nabi sendiri berpesan, ada dua anggota badan yang dapat menyebabkan manusia celaka dan masuk neraka yaitu Farz atau kemaluan, dan lidah atau lisan.

Dengan lidah seseorang bisa mendapat kemuliaan dan dengan lidah pula seseorang dapat terpeleset ke jurang kehinaan. Tidak sedikit pemimpin yang di hormati dan di kagumi rakyatnya karena ucapan-ucapanya, dan tidak sedikit juga pemimpin yang di benci rakyatnya karena ucapan-ucapannya. Bukankah Rasulullah telah menyediakan sebuah teladan bagaimana dirinya dicintai umat karena perkataannya.

Tidak cukup sampai memberikan sebuah teladan, Rasulullah hingga merasa perlu mengingatkan secara eksplisit agar tetap menjaga lidah.

Kemuliaan ataupun kehinaan seseorang banyak ditentukan oleh ucapan-ucapannya. Lalu bagaimana al-Qur’an melukiskan sebuah gambaran yang sangat indah tentang ucapan seseorang,

“Siapa lagi orang yang paling baik ucapanya lebih dari orang yang selalu mengajak taat kepada Allah.”

Turunannya pun bisa dipahami panjang. Mengajak taat kepada Allah adalah juga mengajak berbuat kebajikan dengan segara implikasinya. Sabda Rasul,

“Barang siapa mengajak kepada kebaikan, maka akan mendapat pahala sebesar orang yang mengerjakannya.”

Masih di seputar ucapan atau kata-kata yang baik, Nabi mengajarkan bahwa “orang yang wafat dengan predikat Husnul Khotimah adalah antara lain apa bila pada saat dicabut nyawanya lidahnya sedang banyak menyebut nama Allah. Maka ada ajaran tentang talkin untuk mereka yang di duga sedang dekat dengan syakaratul maut. Rosul SAW berpesan “Kendalikan lidahmu ke arah kebaikan, sebab dengan itu kamu dapat mengalahkan syaitan”

Lukmannul Hakim ditanya tentang amal yang dapat mengangkat derajat kemulian seseorang, beliau menjawab “Bicara yang benar, jujur melaksanakan amanah, dan tinggalkan perbuatan atau perkataan yang tidak bermanfaat”.

Begitu pentingnya menjaga lisan, hingga dia menyejajarkannya dengan kejujuran dan menjaga amanah.

Beberapa pujangga dari berbagai negara pun memberikan kalimat-kalimat bijak tentang lidah. Beberapa di antaranya: Raja Kisra berkata, Saya tidak menyesal terhadap apa yang belum saya ucapkan, tetapi saya bisa menyesal atas apa yang terlanjur sudah saya ucapkan”. Seorang pujangga Cina  berujar, “Selama saya belum melepas kata-kata, saya tetap  yang menguasainya; tetapi, kalau saya sudah melepas kata-kata itu, maka ia memiliki saya”.

Terakhir, seorang Kaisar Romawi berkata,  “Saya lebih mudah menahan apa yang belum saya ucapkan dari pada mengembalikan apa-apa yang sudah saya ucapkan”.

Sebuah telaah kritis menunjukkan sebuah indikasi yang dapat mengingatkan kita. Semakin banyak berbicara bisa semakin banyak pula berbuat salah, kecuali kalau isi pembicaraannya sesuai dengan al-Qur’an atau as sunah Rasulullah. Suatu ketika Rasulullah mengingatkan, “Seseorang yang menyatakan sesuatu yang belum jelas baginya, maka ia akan terlempar di neraka sejauh timur dan barat” (HR Muslim). Pada kesempatan lain beliau menegaskan ulang, “Orang yang paling banyak dosanya pada hari kiamat nanti, adalah mereka yang paling banyak membicarakan sesuatu yang bathil” (HR Abi Dunnya).

Terkait dengan itu, beliau menggarisbawahi,  “Barang siapa yang banyak bicaranya pasti banyak kesalahannya, dan orang yang banyak kesalahannya banyak dosanya, sedangkan orang-orang yang banyak dosanya maka nerakalah yang paling utama baginya …” (HR Abu Na’im). Dan “Amala yang paling dicintai oleh Allah ialah menjaga lidah” (HR. Baihaqi).

“Iman seseorang tidak akan Istiqomah kecuali jika hatinya istiqomah, dan hati tidak akan istiqomah kecuali jika lisannya istiqomah” (HR Amad).

Ilmu itu perhiasan dan diam itu keselamatan. Karena itu jika engkau berkata janganlah banyak-banyak. Menyesal karena diam hanyalah satu kali, sedangkan menyesal karena berbicara bisa berkali-kali. Seseorang bisa mati karena tergelincir lidah, dan tidak ada orang yang mati karena tergelincir kaki.