BUANAINDONESIA.CO.ID – Nampak akar rumput partai Gokar tidak mau tinggal diam dan terus menggalang kekuatan untuk disegerakannya Musyarah Nasional Luar Biasa ( Munaslub ) di partai berlambang pohon beringin. Sebagai bentuk kemarahan kader Golkar terhadap para elit yang dinilai tidak memberikan solusi atas semua yang terjadi di internal partai mereka, seorang Kader Golkar di Cimahi Jawa Barat menyebarkan rilis ke media massa, termasuk pada redaksi Buana Indonesia, Sabtu 25 November 2017 malam.
Rilis bertajuk ” KANG DM KUDU BOGA KAWANI PIKEUN NYUMPONAN KAHAYANG PUBLIK ” tersebut dianggap mewakili kegelisahan partai yang ketua umumnya menjadi tahanan KPK gegara ditengarai terlibat dalam kasus megakorupsi e-KTP tersebut
” Sim kuring hayang nyarita pikeun kapentingan politik Partai golkar dina ngaheuyeuk dayeuh ngolah nagara kahareup ( Saya ingin bercerita untuk kepentingan politik partai Golkar dalam mengelola negara kedepan ), ” ujar si pengirim rilis, H. Wachdan Y. Prawirakusumah Ketua Harian DPD Golkar Cimahi
” Kalau saya melihat hasil polling yg diungkapkan oleh Direktur Eksekutip PARA sindicate , Ari Nurcahyo jelas sekali bahwa yang paling banyak dipilih untuk menjadi Ketua Umum Partai Golkar adalah Airlangga Hartarto (34%) disusul kemudian oleh Kang Dedi Mulyadi (30%). Jadi kalau hari ini (sabtu) betul ada pertemuan DPP golkar dg para ketua DPD partai Golkar seluruh Indonesia , harus betul – betul dapat dimanfaatkan untuk kebesaran partai Golkar kedepan, ” ujar Wachdan
Masih kata dia, pertemuan tersebut tidak boleh hanya sekedar menyampaikan hasil rapar pleno DPP partai golkar semata
” Tentunya pihak DPD partai golkar seluruh Indonesia tidak boleh hanya menjadi pendengar yang baik untuk menerima keputusan hasil rapat pleno DPP partai Golkar, tapi harus mampu menyerap keinginan seluruh pemikiran Ketua DPD Partai GOLKAR Se – Indonesia dan masyarakat di daerah pada umumnya, ” tambahnya
Lanjutnya, kewajiban untuk menerima, memahami dan melaksanakan seluruh keputusan rapat pleno tersebut sangat tergantung kepada kehendak para ketua DPD parti Golkar tingkat provinsi Kabupaten yang notabene sebagai perwakilan seluruh elemen partai Golkar di daerah masing – masing,
” Termasuk keinginan masyarakat yang menghendaki kembalinya kejayaan partai Golkar di masa lalu. Selanjutnya jika kita menyimak apa yg disampaikan oleh DM ( Dedi Mulyadi ) ketua DPD partai Golkar Jawa Barat. Beliau menyampaikan bahwa partai Golkar merupakan partai politik masa depan, partai politik moderen, bukan partai politik milik per-orangan , bukan pula milik sekelompok orang tapi milik seluruh kader golkar aktifis Golkar. Selain itu kang Dedi mulyadi mengemukakan bahwa kita dihadapkan kepada dua pilihan, apakah kita akan memilih administratif politik kepartaian dengan akhirnya ditinggalkan publik atau memilih meninggalkan administratif agar kita dipilih Publik…?! ,” kutip Wachdan
Wachdan menambahkan, dari ungkapan DM tersebut dapat dipastikan bahwa kepemimpinan dalam tubuh partai golkar hrs benar – benar mumpuni didalam menggiring dan mengarahan masyarakat pemilih untuk cinta terhadap Golkar.
” Kalau dikaitkan dengan hasil pooling diatas? Jelas hrs ada keberanian (DM KUDU BOGA KAWANI) untuk maju menjadi unsur pimpinan dalam kepengurusan DPP partai Golkar, minimal bisa berdampingan dengan Airlangga Hartarto sebagai ketua umum DPDP PARTAI GOLKAR dan kang Dedi Mulyadi sebagai Sekretaris Jendral DPP partai Golongan karya. tinggal masalahna Aya kawani henteu..?! ( ada keberanian atau tidak ?) . Tentang caranya sudah tentu harus sesuai dengan mekanisme yang berlaku , baik melalui MUNASLUB atau apalah namanya, nu jelasmah kudu sesuai jeung aturan ( yang jelas harus sesuai aturan ), ” kata dia.
Sebelumnya, Riak – riak perpecahan ditubuh partai Golkar telah nampak sejak Setya Novanto mengukuhkan Ridwan Kamil sebagai calon Gubernur Jawa Barat melalui sebuah rekomendasi beberapa waktu lalu. Hal ini dianggap tidak fair dan mencederai proses demokrasi di internal partai itu. Karena memang publik pun telah mengetahui bahwa Dedi Mulyadi sedang berjuang meraih dukungan partai lainnya agar bersama – sama dirinya dan Golkar menuju kursi Jabar Satu.
Perlawanan pun digalang kader, utamanya di akar rumput Golkar. Perlawanan itu tak hanya dilakukan dengan berbagai upaya termasuk di arus bawah maupun melalui dunia maya. Petisi online bertajuk #KangDediMulyadi sempat menjadi perhatian publik saat itu. Petisi yang dirilis Aat Safaat Hodijat, seorang kader Golkar kota Bandung, meraih kemenangan dengan ribuan dukungan .Langkah Aat membuat petisi ini sempat ditentang di internal Golkar.Aat dianggap ‘ memberontak ‘ dan tak patuh dengan keputusan DPP Partai Golkar yang mendukung Ridwan Kamil sebagai Gubernur. Namun selang sehari petisi online tersebut dinyatakan menang dan Setnov pun ditahan KPK setelah sebelumnya Setnov dinyatakan hilang. Setnov ditahan KPK setelah mendapat kecelakaan lalu lintas yang dianggap kontroversial, menabrak tiang listrik. Hastag #tianglistrik pun viral. Bertepatan dengan itu, Aat kembali mengejutkan jagat maya dengan petisi barunya ‘ Berhentikan Setya Novanto ‘ . Tak tanggung petisi online Aat tersebut meraih 15.000 an dan menuju 25.000 tandatangan hanya dalam waktu kurang dari sepekan. Kami sempat menghitung estimasi pertambahan dukungan di petisi online itu, kami dapatkan angka yang mengejutkan, petisi itu mendapat sekitar 1000 dukungan pengguna internet setiap jamnya. Petisi Aat ini dinilai sebagai sebagai pelopor petisi online yang dibuat kader partai di Indonesia . Beberapa kalangan pun menyebut Aat sebagai ‘ Golkar King Of Petition ‘.

Seolah ‘direstui’, seiring itu Golkar kembali membuat berita dengan spanduk kontroversial tersebar di hampir seluruh kota kabupaten yang ada di Jawa Barat. Meski Spanduk bergambar Setnov dan Ridwan Kamil itu awalnya dianggap sebagai penggembosan terhadap Ridwan Kamil, namun belakangan hal ini disanggah DPD Golkar Jawa Barat. Kini perlawanan kader pun mengerucut pada desakan digelarnya Munaslub. Salah satu agenda Munaslub berisi desakan dicopotnya Setya Novanto sebagai ketua umum partai Golkar. Nampaknya pengaruh pengaruh Setnov tak lagi dapat membendung besarnya gelombang perlawanan kader – kader Golkar dihampir seluruh daerah. Akankah pria yang mendapat juluka ‘ papa ‘ oleh para netizen ini akan lengser dari kursi Golkar Satu ?








