
BUANAINDONESIA.CO.ID, BOGOR – Puluhan mahasiswa yang berhimpun dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Djuanda (Unida) Bogor menggelar aksi unjukrasa menolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Unjukrasa berlangsung di Perempatan Ciawi, Kabupaten Bogor, Senin 26 Februari 2018.
Aksi yang berlangsung selama kurang lebih satu jam sejak pukul 14.00 WIB ini sempat menyita perhatian para pengguna jalan. Baik dari arah Kota Bogor, Jakarta, Cianjur dan Bandung, serta dari arah Sukabumi. Bahkan demonstrasi yang dikawal ketat aparat kepolisian ini sempat memacetkan arus lalu lintas dari berbagai arah.
Dalam aksinya, mahasiswa selain berorasi juga melakukan aksi tiduran di jalan dan membakar spanduk.
Presiden Mahasiswa Unida Bogor, Sandi Maftuh Firdaus, menilai kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM tidak tepat karena kondisi ekonomi rakyat saat ini sedang menjerit sedangkan sandang, pangan, papan, dikuasai segelintir orang.
“Selama tahun 2018 ini telah terjadi kenaikan harga BBM tiga kali. Yaitu pada tanggal 13 Januari, tanggal 20 Januari, dan kemarin tanggal 24 Februari 2018. Di saat bersamaan Bahan Bakar untuk rakyat yaitu premium sudah langka di setiap SPBU, mau gak mau rakyat dipaksa membeli BBM yang tidak disubsidi. Pertanyaan nya bagaimana masyarakat mau sejahtera jika harga BBM terus dinaikan. Dan tak segan-segan pemerintah menaikan harga BBM Premium cs rata-rata Rp 300 sampai Rp 750,” bebernya.
Bagi mahasiswa, kata Sandi, kenaikan harga BBM ini sangat bertentangan dengan Nawacita Jokowi-JK.
“Kebijakan ini bukan lagi membangun ekonomi kerakyatan, tetapi justru mematikan ekonomi kerakyatan, sebab rakyat kecillah yang kebanyakan menggunakan BBM bersubsidi tersebut. Kenaikan harga BBM memukul rakyat karena harga-harga kebutuhan pokok semakin melambung tinggi,” ujarnya.
Mahasiswa BEM Unida juga menyampaikan tujuh pernyataan. Yakni, menuntut pemerintah mengembalikan ketersediaan BBM bersubsidi jenis premium di setiap SPBU seluruh Indonesia; menolak keras kebijakan Jokowi-JK yang telah menaikkan harga BBM, Pemerintahan Jokowi-JK harus menurunkan kembali harga BBM untuk menunjukkan keberpihakannya kepada rakyat pekerja, sesuai dengan janjinya di masa kampanye pemilihan Presiden membalikkan premium rakyat yang telah hilang diperedaran, mengajak kepada seluruh elemen masyarakat untuk terus mengawal kebijakan Jokowi-JK, sejahterakan rakyat kecil dari himpitan ekonomi kapitalis dan optimalkan produksi minyak nasional dengan perbaikan iklim investasi di sektor pertambangan minyak agar kebutuhan minyak nasional bisa terpenuhi.
Sekadar informasi, BBM jenis Pertalite dari sebelumnya Rp 7.600 per liter untuk wilayah Jawa, Madura, dan Bali (Jamali) kini menjadi Rp 7.900 per liter.
Pertamax dari Rp8.600 per liter kini menjadi Rp8.900 per liter dan untuk Pertamax Turbo menjadi Rp10.100.
Kenaikan tertinggi terjadi pada jenis Dexlite, dari Rp7.500 per liter kini menjadi Rp 8.100 per liter.










