

BUANAINDONESIA.CO.ID, SUKABUMI- Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Sukabumi, Adil Budiman, menyebut Kota Sukabumi saat ini tengah dihadapkan dengan situasi rawan sampah, karena tingkat kesadaran masyarakat tentang pembuangan sampah sangat ini masih rendah.
“Mereka masih beranggapan bahwa dengan membayar retribusi sudah bebas membuang sampah, padahal retribusi bukan hanya diperuntukkan untuk itu,” terang Adil, Rabu, 21 Februari 2018.
Parahnya, seolah-olah Dinas terkait kerapkali di cap kurang bertanggung jawab dalam penanganannya. Padahal lanjut Adil, masyarakatlah yang tak pernah peka dan mentaati aturan yang ada.
“Kan buang sampah itu ada tiga shift. Masyarakat sendiri yang enggan taat, seolah-olah dinas engga ada kerjanya. Kebanyakan masyarakat itu buang sampah ketika nganter anak sekolah sama mau berangkat kerja, jadi gini rawan sampah,” jelasnya.
Menurutnya dalam perhari volume sampah di Kota Sukabumi mencapai 165 ton, 65 ton masuk bang sampah, sisanya lempar ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir).
“Perhari, dari 80 persen, 60 persen sampah organik. Limbah industri kita kecil, hampir engga ada,” jelasnya.
Adil juga menyebut, faktor rawan sampah juga diakibatkan karena usia TPA Sukabumi hanya tersisa 1,5 hektar, sehingga dengan pola kesadaran masyarakat yang terus seperti mau, tidak mau Sukabumi akan menjadi kota rawan sampah dalam waktu dekat.
“Lahan kita tinggal 1,5 hektar lagi, hanya meninggal waktu habis. Jadi kalau sampah 165 ton perhari, dalam dua tahun pasti habis,” terangnya.
Solusi yang ditawarkan, pihaknya akan melakukan sosialisasi sampah rumah tangga, yang mau tidak mau harus dikurangi.
“Makanya juga harus pintar milah, organik dan anorganik, sehingga bisa bermanfaat,” sambungnya.
Setelah kesadaran pengurangan sampah, maka penyedian lahan sampah menjadi solusi kedua. Menurutnya, idealnya lahan sampah saat ini diperlukan 20 sampai 30 hektare.
“Kita itu cuma punya 10 hektar aja buat lahan dari tahun 1995 sampai sekarang,” lanjutnya.
Adil juga telah berencana melaksanakan kerjasama dalam penganganan masalah sampah, sehingga bisa diproses dan menghasilkan uang.
“Mudah-mudahan jadi, kalau misalnya jadi, selain sampah bisa teratasi, kita juga bisa mendapatkan pemasukan,” tutupnya.
Editor: NA









