Astagfirullah, Tak Jauh Dari Kantor Bupati, Masih Ada Keluarga yang Hidup Seperti Ini ?

25.747 dibaca
Herawati dan anak anaknya di dalam Gubugnya

BUANAINDONESIA.CO.ID, PANDEGLANG – Pasangan Acang dan Herawati, warga kampung Kadu Pesing RT 01 RW 09 Kelurahan Kabayan, Kabupaten Pandeglang Banten, harus pasrah hidup di bawah garis kemiskinan. Pasangan ini tinggal di Gubuk reot yang hanya berukuran lima kali empat yang dibangun sekitar tiga tahun lalu. Ironisnya, gubuk mereka hanya berjarak 1 KM dari pusat Pemerintahan Pandeglang.

Setiap harinya pasangan yang dikarunia 8 orang anak ini harus makan pisang dan singkong sebagai pengganti nasi.

Advertisement

Acang tidak punya pekerjaan lain selain mengandalkan kuli serabutan. Sebagai seorang ayah, barang tentu merasa tidak tega membiarkan anak – anaknya tidak mengenyam manisnya bangku sekolah. Namun apa mau dikata, itu nasib yang suka atau tidak suka sudah digariskan Sang Khalik.

“Setiap hari harus keliling mencari pekerjaan dan menunggu disuruh tetangga atau siapapun yang memerlukan tenaga saya,  karena saya ini tidak punya keahlian atau pekerjaan tetap,  sehingga hanya bekerja serabutan untuk memberi napkah keluarga,  kalau tidak ada yang nyuruh kerja, ya paling saya pergi ke hutan atau ke kebun untuk mencari pisang atau singkong buat makan, itu pun bukan kebun milik saya,  jadi pergi ke kebun itu berharap yang punya kebun ada, jadi saya bisa minta pisang atau singkong,” Acang lirih bercerita pada kontributor Buana Indonesia kami, Benny Madsira, Rabu, 20 Februari 2018

Acang mengaku, dirinya bukan tidak ingin menyekolahkan anak – anaknya. Jangankan untuk menyekolahkan, untuk makan saja Acang harus berjuang keras.

“Bukannya tidak mau menyekolahkan anak anak,  tetapi karena biaya untuk sekolah tidak punya,  jangankan untuk nyekolahin anak buat makan aja susah,  kalau ada yang nyuruh kerja yang pasti kita dapat makan Nasi kalau tidak ada yang nyuruh kerja,  ya makan singkong,  saya pasrah hidup yang serba kekurangan,  usaha dan berbagai cara tetap saya lakuin untuk ngasih makan keluarga yang penting halal, walau setiap hari makan pisang dan singkong saya pasrah dengan keadaan ini,” ujar Acang.

Senada dengan suaminya, Herawati juga merasa ketir ketika musim penghujan datang. Bagaimana tidak, gubuk tempat dia dan anak – anaknya berteduh, seolah tidak mampu lagi menahan derasnya hujan.

“Was – was setiap ada hujan dan angin,  karena  sudah reot, bocor dan kalau hujan anak – anak saya pada basah semua, gak bisa tidur, mereka (pemerintah, red)  bukannya tidak tahu keadaan kami, tetapi sampai sekarang belum pernah ada yang datang atau merhatiin keluarga saya,  tetapi kami juga sudah pasrah dengan kondisi ekonomi yang seperti ini,  mudah – mudahan nanti kehidupan kami juga sama seperti orang – orang yang di sekitar saya ini,” ujar Herawati menahan sedih.