Begini Akhir Cerita Tipu – Tipu Proyek Perumahan Arcamanik

11.551 dibaca

BUANAINDONESIA.CO.ID, BANDUNG – Darmawan Suryaatmadja menghadiri sidang pertama di kursi pesakitan sebagai terdakwa untuk kasus yang berawal dari laporan Arief Muhamad Lutfi terkait dugaan perbuatan melawan hukum memanipulasi akta otentik dan penipuan di Pengadilan Negeri Kelas 1A Bandung, pada Selasa , 22  Agustus 2017 kemarin.

Pada sidang yang dipimpin oleh Hakim Ketua Sutio Jumagi Akhirno, Hakim Anggota Wasdi Permana dan Yuswardi, Penuntut Umum Jaksa A. Nurhidayat membacakan beberapa lembar dakwaannya.

Advertisement

Disebutkan dalam lembar dakwaan yang dibacakan oleh jaksa, diantaranya terdakwa Darmawan Suryaatmadja pada kurun waktu tahun 2015 dan 2016, telah mengajak Arief Muhamad Lutfi (saksi korban) untuk menjadi pemodal dalam membangun perumahan di bidang tanah yang diakui oleh terdakwa merupakan tanah miliknya seluas 8.250 meter persegi di wilayah Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung.

Kerjasama itu dibuatkan perjanjiannya dihadapan Notaris Lidya Martasuta pada tanggal 2 Februari 2015 dan selanjutnya keluarlah Akta No 2 tanggal 18 Februari 2015 sebagai dasar atas Perjanjian Kerja Sama. Disitu, terdakwa diduga menyuruh notaris untuk memasukkan keterangan palsu ke dalam akta Perjanjian Kerja Sama.

Dikatakan oleh Terdakwa Darmawan Suryaatmadja yang dituangkan dalam akta Perjanjian Kerja Sama untuk meyakinkan saksi korban, bahwa tanah yang akan dibangun itu diakuinya adalah milik terdakwa, sertifikat kepemilikannya sedang dalam proses splitsing/pemecahan di Kantor Pertanahan Kota Bandung serta
sedang dalam pengajuan proses Ijin Mendirikan Bangunan di Distarcip Kota Bandung.

Kerjasama akhirnya disepakati, dan selama proses pembangunan itu Terdakwa Darmawan Suryaatmadja sudah menerima uang dari Arief sebesar 500 Juta sebagai modal dasar serta untuk alasan pengurusan splitsing dan IMB sebesar Rp. 145 juta.

Disamping itu Arief sudah mengerjakan pengurugan (mematangkan lahan) atas lahan yang terdapat dijalan Cicukung, Kelurahan Sukamiskin, Kecamatan Arcamanik untuk dibuat Perumahan, serta telah dibangun telah berdiri sejumlah 4 bangunan rumah. Namun proses pembangunan terhenti tatkala proyek tersebut disegel oleh pihak Distarcip Kota Bandung karena tidak memiliki IMB.

Diketahui dari situ bahwa sebetulnya terdakwa tidak pernah mengurus IMB atas proyek yang sedang dibangun itu dan proses splitsing yang disebutkan dalam akta tidak pernah diajukan oleh terdakwa Darmawan Suryaatmadja ke Kantor Pertanahan Kota Bandung. Diketahui pula bahwa Sertifikat Hak Milik No. 81/Kel. Sukamiskin yang asli tidak diketahui keberadaannya dan Terdakwa Darmawan Suryaatmadja pun tidak menguasainya.

Atas kejadian tersebut, Jaksa Penuntut Umum dalam membaca surat dakwaannya, saksi (Arief M Lutfi) menderita kerugian Rp 3 milyar atau setidak-tidaknya Rp. 145 juta, sehingga melaporkannya ke Polda Jawa Barat. Bersamaan Jaksa Penuntut Umum usai menyebut angka Rp 3 milyar, Darmawan Suryaatmadja pun tersenyum.

Atas perbuatannya tersebut, terdakwa diancam pidana pasal 266 KUHP tentang memasukkan keterangan palsu ke dalam suatu akta otentik dan 378 KUHP tentang Penipuan.