Waduh, Puluhan Pendekar Silat Datangi Pesantren Al Fath. Ada Apa ?

26.849 dibaca

BUANAINDONESIA.CO.ID, SUKABUMI – Sejumlah Pendekar Silat mendatangi pesantren Dzikir Al Fath Kota Sukabumi , Sabtu, 17 Maret 2018. Sejumlah anggota polisi dan TNI pun berjaga – jaga sejak pagi hari.

Advertisement

Bukan untuk menyerang, mereka ternyata datang unjuk kebisaan dihadapan ulama, petinggi kepolisian dan petinggi TNI yang ada di Sukabumi.  Gelaran ini diadakan oleh mereka, bukan tanpa alasan.

Dalam menjaga keamanan para ulama di pondok pesantren, puluhan pendekar silat jawa barat yang tergabung dalam Gabungan Pendekar Silat Nusantara (GPSN) tersebut berkikrar turut menjaga keamanan jiwa  para ulama, turut andil dalam menjaga kamtibmas dan hankamrata bersama TNI Polri dari berbagai ancaman.

Berdasarkan pantauan, Buana Indonesia Network, para pendekar ilmu bela diri tersebut mempertontonkan berbagai jurus ilmu bela diri, mulai dari jenis Ibing, tarung tangan kosong hingga menggunakan alat seperti golok, tidur diatas tumpukan paku lalu kemudian dipukul memakai palu, bermain bola leunguen seuneu (boles) yang pernah menjadi juara satu di tingkat Jawa Barat.

Selain para atraksi, ada momen yang menarik perhatian para jurnalis dalam gelaran itu,  diantaranya hadirnya perwakilan keluarga dan yayasan Wiranatakusumah.

Moely Wiranatakusumah, Wakil Ketua Yayasan Wiranatakusumah menilai bahwa penampilan tersebut merupakan sebuah bentuk wujud kebersamaan antara masyarakat pesantren dan budaya sehingga nantinya menjaga dan membangun keutuhan jawa barat. Karena menurutnya menjaga keutuhan Jawa Barat adalah tanggung jawab bersama  baik dari sisi budaya dan lainnya.

“Saya dari keluarga Wiranatakusumah mewakili masyarakat budaya,menilai penampilan tersebut merupakan bentuk kebersamaan, yang bisa membangun sinergi antara pesantren dengan budaya khususnya di jawa barat,” terangnya, Sabtu 17 Maret 2018.

Selain bahasa, lanjut Moely, benteng terakhir budaya Jawa Barat  yang terus lestari hingga saat ini adalah pencak silat. Sehingga ketika tidak dilestarikan maka akan ikut tergerus. Bahkan kini di dunia pendidikan muatan lokalpun sudah sama-sama dihapus oleh karenanya Moely merasa bertanggung jawab untuk mengembalikannya.

“Ini harus dikembalikan, kegiatan ini salah satu bentuk upaya untuk kembali mengenalkan nilai-nilai pilosofi sunda yang diterapkan di pesantren dan masyarakat. Saya harap kekuatan budaya ini akan menjadi kebanggan bangsa yang lebih kuat kedepannya,” jelasnya.

Untuk diketahui, Wiranatakusumah dikenal sebagai  ‘Founder’nya Bandung. ‘Klan’ Wiranatakusumah adalah keluarga yang secara turun temurun pemimpin Bandung selama rentang waktu 400 tahun ( Dihitung dari Wiranatakusumah I sampai Wiranakusumah VI). Mereka akan membangun kerjasama dengan Al Fath dan pesantren yg ada di sukabumi adalah Sawira ( Santri Wirausaha) , Kanataan ( Program membangun SDM umat dari mulai guru ngaji, hafidz, marbot dll), Kakusumahan ( Pendekatan menetralisir keresahan dikalangan ulama ) dan Jawara ( Jaga Wangsit Ulama Nusantara ).

Sementara itu, Pimpinan pondok Pesantren Alfath Kota Sukabumi, KH. Fajar Laksana menyebutkan deklarasi kegiatan berkumpulnya para pendekar bela diri, ormas islam pihak TNI polri tersebut dipicu oleh adanya serangan terhadap para alim ulama. Sehingga digelarlah acara silaturahmi.

“Kami mengambil hikmah dari serangan serangan pada ulama yang saya juga tidak tahu apa maksud dan tujuannya, tapi bagi kita apapun bentuknya kita harus siap menjaga diri, agama dan  negara kita, oleh karenanya kita laksanakan silaturahmi dengan membuat deklarasi ini, ” paparnya.

Bahkan untuk terus menjaga konduktifitas pihaknya akan melaksanakan kegiatan rutinan ngaji on the street (ngaos) dan menca on the street (maos) dengan menyambangi masyarakat serta memperkenalkan budaya pencak silat untuk kenyamanan dan keamanan sekaligus bela NKRI baik dari  serangan dalam maupun luar.

“Program ngaos dan maos ini untuk memperkenalkan seni budaya bela diri kepada masyarakat, ya tentunya untuk menjaga konduktifitas keamanan, kami akan laksanakan rutin tiga bulan sekali. Saya ucapkan terima kasih kepada pihak TNI Polri yang sama-sama mendukung acara, insya Allah tahapan kedua ngaos dan maos ini akan di laksanakan di kepolisian,” jelasnya.

Kapolres Sukabumi Kota Sukabumi, AKBP Susatyo Purnomo Chondro mengaku sangat mengapresiasi deklarasi yang dilaksanakan oleh GPSN dalam menjaga keamanan Kota Sukabumi. Susatyo menilai bahwa seseorang yang mempunyai ilmu bela diri atau pesilat mempunyai nilai yang luhur karena setiap gerakan yang ditampilkan mengandung pilosofi yang bisa membedakan dengan olahraga lainnya.

“Ini merupakan salah satu satgas polisi penjaga ummat dimana kita merangkul semua komunitas yang bisa menjaga ikatan persaudaraan sesama warga Kota Sukabumi sehingga bisa memberikan keamanan dan kenyamanan,” tutupnya.