
BANYUASIN, Buana Indonesia– Hujan yang terus mengguyur diwilayah Kabupaten Banyuasin Khususnya Dikecamatan Pulau Rimau, Selama sepekan terakhir ini membuat wilayah Kecamatan Pulau Rimau menjadi nyaris terisolir akibatnya perekonomian masyarakat nyaris menjadi lumpuh Karna, 7 titik jalan Kabupaten yang terdapat di Desa Tanjung Laut terendam sehingga biaya transpotasi darat menuju kewilayah tersebut mendadak naik Rp.240 ribu perorangnya.
Ironisnya hingga berita ini diturunkan spihak pemerintah belum ada terlihat mencarikan solusi, sementara kelaparan masyarakat disana telah mengancam, terang Banun salah seorang warga Pulau Rimau kemarin.
Dia mengaku selama hidupnya diwilayah Pulau Rimau hampir lebih 30 tahun belum pernah merasakan banjir seperti saterjadi didesa Tanjung laut Kecamatan Suak Tapeh seperti yang sekarang dialami. “sekalipun ada hujan hingga berhari-hari airnya tidak sampai menggenang sampai menenggelamkan badan jalan apalagi sampai rumah warga turut tenggelam sepertyi ini” keluh Banun.
Menurut Banun,terjadinya banjir ini akibat dari pengaruh mendangkalnya daerah aliran sungai “ini juga dampak dari kurang perhatiannya Pemkab Banyuasin terutama pada Dinas Parairan Banyuasin, karena Daerah Air Sungai diwilayah itu sepertinya sudah mulai mendangkal dan tidak dilakukan pengerukan, sehingga saat ada turun hujan airnya langsung meluap dan diperparah lagi disekitar itu ada pengusaha pengembang perkebunan yang membuka lahan tanpa memperhatikan dampak lingkungan jika saatnya tiba dimusim hujan”tambahnya
Masih menurut Banun, Disaat ada turun hujan dengan intensitas tinggi, tentu air itu tak dapat mengalir dengan sempurna bahkan langsung meluap hingga menggenangi 7 titik badan jalan Kabupaten yang menghubungkan Kecamatan Pulau Rimau. Genangan air itu sudah ada sepekan ini , tetapi dari pihak pemerintah terkait belun ada terlihat berinisiatif mencarikan solusi guna meringankan beban hidup masyarakat.
Sementara dengan luapan air hingga setinggi pinggang orang dewasa itu membuat biaya transpotasi darat satu-satunya mendadak naik sampai Rp.240 ribu dalam satu kali bepergian, padahal kalau tidak banjir melintas dijalan itu bebas biaya, dan akibat banjir yang tak kunjung surut itu membuat wilayahnya menjadi terisolir, terangnya sedih.
Dengan genangan di 7 titik dari Desa Bengkuang, Tanjung Laut dan Desa Meranti Kecamatan Suak Tapeh tersebut membuat perekonomian di Pulau Rimau ini menjadi mati suri, andaikata sampai akhir bulan Februari ini dari pemerintah tidak ada bantuan bisa jadi masyarakat disana menjadi mati kelaparan, tambahnya.
Warga yang rumah tergenang air hanya terlihat beraktipitas dirumahnya saja dan dimanfaatkan untuk beristirahat sambil menunggu air surut termasuk menunggu ularan dermawan untuk menbantu berbagai bantuan keperluan makan dan kesehatannya.
Kepala Dinas Perhubungan Pemkab Banyuasin Supriadi hendak dikonfirmasi selalu dikatakan sedang sibuk dan masih ada tamu, sehingga belum dapat solusi untuk melakukan penanggulang penyebrangan warga agan meringankan biaya, termasuk Kadis PU Pengairan Banyuasin Ir Yos Karimudin, MM juga tidak berhasil untuk diminta komentarnya terkait program DAS, demikian pula Kadis PU BM Banyuasin juga tidak berhasil dan dikantornya terlihat kosong.(Bi)







