
OGAN ILIR, buanaindonesia.com– melihat hasil panen perdana ubi Batuo yang menggiurkan, 1 hektar bisa menghasilkan 121 ton Didesa Payakabung Kecamatan Indralaya Utara Kabupaten Ogan Ilir jum’at (22/11/13) yang lalu, Pihak Pemerintah Kabupaten Bumi Caram seguguk melalui dinas Perkebunan dan kehutanan Kabupaten Ogan Ilir akhirnya, memprogramkan petani Ogan Ilir untuk menanam ubi Batuo, pada tahun 2014 mendatang.
“Dengan hasil yang sangat menggiurkan ini, pada tahun 2014 mendatang kita akan mengajukan ke Pemrintah pusat, agar mefasilitasi masyarakat kita untuk bertani ubi ini. Ya, paling tidak, petani kita akan dibantu bibit ubi yang hasilnya sangat menjanjikan ini,” ujar Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Ogan Olir Wawan Wiguna, SP saat ditemui di lokasi panen perdana ubi jenis Batuo belum lama ini.
Menurutnya, memang penanaman ubi Batuo itu untuk pertama kali di Ogan Ilir, dan hasilnya bisa lima kali lipat dibandingkan daerah-daerah yang lain. “Informasi yang kita terima kalau daerah dan provinsi lain cuma mampu menghasilkan 22-23kg perhektar, artinya lima kalilipat dari hasil panen ditempat kita ini atau dilokasi kita ini,” imbuhnya.
Dia juga mengilustrasikan, bahwa saat ini dipasaran ubi dijual Rp500 perkilogram. “Coba kalikan saja, 121 ton dikali 500 rupiah, kan sudah 60 juta lebih. Sedangkan biaya tanam dan perawatan tidak seberapa. Yang pasti, usaha tanam ubi batuo ini sangat menjanjikan, dan bisa membuat petani kita sejahtera,” tuturnya semangat.
Hal senada juga diungkapkan Kepala Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Selatan, yang juga sempat hadir dalam panen ubi batuo perdana tersebut, menurutnya saat ini minat masyarakat provinsi di Sumsel dibidang menanam ubi masih sedikit.
“Baru sekitar 10 ribu hektar yang menanam, masih sangat minim sekali, dengan adanya panen perdana ini, dengan hasil yang sangat menguntungkan, nanti kita akan sosialisasikan ke masyarakat, untuk melakukan usaha ini juga,” singkatnya.
Sementara itu Direktur Budidaya Aneka Kacang dan Umbi, Dr Ir Maman Suherman, MM mengakui, bahwa hasil panen ubi perdana yang dilakukan pihak perorangan ini sangat luar biasa.
“Ini sebuah trobosan baru untuk mengembangkan petani untuk menanam ubi. Dimana memang, dari data kita, secara nasional, petani ubi baru mampu menghasilkan 22 sampai 23 ton perhektar. Tentunya, dengan hasil panen 121 ton perhektar ini sangat luar biasa,” ujarnya saraya mengaku, ini adalah potensi yang besar.
Dimana lanjutnya, bahan pokok berupa ubi ini masih menjadi primadona dan dicari. “Yang pasti untuk pembuatan industri tepung tapioka, makanan ternak juga, dan banyak lainnya yang tentunya ubi kayu ini sangat membantu energi,” imbuhnya.
Pihaknya menilai dengan hasil yang sangat luar biasa ini juga tentunya tidak terlepas dari prawatan dan penanaman yang baik “Bibitnya varitasnya bagus, cara tanamnya mantap, pupuk yang digunakan sangat baik, seperti pupuk organik, dan pupuk pupuk kandang,” tuturnya.
Untuk biaya produksi ubi sendiri tidak begitu malah lanjutnya, dimana dalam sehektar hanya merogo kocek Rp10 sampai Rp11 juta. “Dengan hasil panen ini tentunya sangat membuat masyarakat sejahtera khususnya bagi petani,” tukasnya saraya mengaku ekonomi rakyat akan maju dan berkembang.
Tak lupa pihaknya berharap, agar ini bisa dikembangkan, tidak hanya di Kabupaten Ogan Ilir dan Sumsel saja, melainkan secara nasional. “Ya bisa diperluas lagi, dan manfaatkanlah lahan tidur yang ada. Bisa juga ditanam bareng dengan kedelai, karena bisa menyuport hasilnya,” harapnya.
Pantauan koran ini juga, meskipun panen perdana ubi ini tidak marak, namun kabar yang didapat sangat mengembirakan. Selain panen ubi batuo sebanyak enam hektar, juga dilakukan panen ubi gajah sebanyak 90 hektar.(mie)






