Petani Getah Karet Pulau Bengkalis “Menjerit”

16.639 dilihat
ilustrasi getah foto net

BENGKALIS, Buana Indonesia- Harga getah karet atau ojol terus mengalami penurunan sejak dua pekan terakhir. Bahkan, kini sudah melebihi 50 persen dari biasanya. Kondisi ini para petani perkebunan di Pulau Bengkalis mulai “menjerit”.

Bagaimana tidak?, harga getah karet sebelumnya mampu berkisar Rp 13 ribu per kilogram, saat ini hanya dipatok kalangan tengkulak Rp 7 ribu untuk per kilogram atau turun mencapai 53 persen.

Advertisement

Seperti dituturkan petani perkebunan karet dari Desa Selatbaru, Kecamatan Bantan, Kabupaten Bengkalis Rapi (45) pada wartawan , Jum’at pekan lalu. Dirinya tidak menyangka akan terjadi penurunan harga hasil perkebunan ini yang terus menerus. Sebelumnya harga jual mampu Rp 13 ribu per kilogram, terus turun ke Rp 12 ribu dan selanjutnya turun Rp 10 ribu-an dan sekarang hanya Rp 7 ribu per kilo.

“Ya tentu saja kita mulai risau dengan harga ojol yang terus turun. Selama ini, kita memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mengandalkan dari menoreh pokok Getah, sementara penghasilan yang lain tidak tentu,” tuturnya.

Ditambahkan Rapi, dengan harga getah karet turun ini, dirinya juga sudah mulai kebingungan. Sebelumnya selain mengandalkan dengan hasil getah karet, dirinya juga menyambi dengan pekerjaan lain seperti kegiatan proyek-proyek pemerintah. Namun, saat ini kegiatan tersebut sama sekali belum banyak yang berjalan. Sehingga mau tidak mau terpaksa hanya mengandalkan dari hasil tanaman getak karet ini.

“Tahun kemarin masih bisa juga kita tutupi dengan kegiatan lain seperti mengupah pada kegiatan proyek pemerintah. Sekarang proyek kan banyak yang belum jalan, jadi tetap kita handalkan dari nyadap karet,” ujarnya.

Demikian halnya yang diutarakan penyadap karet dari Desa Jangkang, Kecamatan Bantan Boinah (23). Dengan kondisi harga getah karet yang di jual terus turun, dirinya juga mulai khawatir karena penghasilan dari menakik pohon getah adalah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia berharap harga getah karet yang selama ini bisa dihandalkan memenuhi kebutuhan hidup itu, harganya dapat kembali bangkit.

“Ya mudah-mudahan harga kembali naik. Selama ini penghasilan kita hanya dari menoreh getah kalau terus turun bagaimana nanti. Harga jual getah karet turun sementara harga kebutuhan untuk makan di warung naik dan tak penah turun,” keluhnya.***(sumber riauterkini.com)


Advertisement