BUANAINSUMSEL.COM, BANYUASIN-Pelaku usaha kecil dan menegah (UKM) yang ada di Kabupaten Banyuasin khususnya yang ada di Kecamatan Rantau bayur Kabupaten Banyuasin sumsel mengeluh. Kini ada peraturan baru dikeluarkan pihak SPBU, tempat biasa membeli BBM (Bahan Bakar Minyak).
Peraturan itu berisikan tentang pembatasan pembelian BBM jenis bensin. Dan diharuskan membeli BBM Jenis pertalite. Padahal masyarakat Desa yang jarak tempuhnya lebih jauh untuk ke Kota lebih senang memakai BBM Jenis Bensin, akibatnya. Para pelaku UKM tersebut mengalami penurunan omset setiap bulannya.
“Kami sekarang bingung, kami tidak diperbolehkan lagi membeli Bensin untuk dijual ke Masyarakat, malahan kami disarankan untuk membeli BBM Jenis pertalite, sedangkan masyarakat belum kenal dengan BBM Jenis pertalite itu”Ucap Iin (35) Warga Desa lebung, Anggota UKM Kabupaten Banyuasin saat dibincangi buanaindonesia.com, Rabu (05/10/16).
Dirinya menambahkan, kebijakan yang diberlakukan oleh pihak SPBU terasa memberatkan mereka.”Jelas dengan adanya kebijakan ini kami sebagai pelaku usaha merasa keberatan, mengingat saat ini kebutuhan bensin di masyarakat sangat besar, sebab bensin banyak digunakan sebagai bahan bakar mesin ketek, dan genset”ujarnya.
Masih kata dia, kalaupun kualitas pertakite lebih bagus dari pada pertamax dan bensin, pihak SPBU ataupun Pertamina harus memberikan sosialisasi kepada masyarakat.
“Masyarakat di Desa ini kan pengetahuannya kurang, jadi alangkah bagusnya disosialisasikan terlebih dahulu kepada masyarakat, apa itu BBM Pertalite,? Tandasnya.
Sementara itu, Manager SPBU 302.24.83 Pangkalan balai, Khoirul melalui Anang Pengawas Operatornya ketika dikonfirmasi membenarkan apa yang dikeluhkan oleh masyarakat tersebut.
“Ya memang benar saat ini kebijakan ketat tengah diberlakukan ke setiap SPBU, bahwa Pelaku Usaha Kecil Menengah (PUKM) binaan Diskoperindag Banyuasin saat ini diharuskan membeli BBM jenis Pertalite”ucapnya.
Dijelaskan Anang kebijakan pembatasan BBM jenis benain itu diambil didasarkan atas aturan dari pihak Pertamina. Karnanya, pihaknya saat ini tidak bisa berbuat banyak dengan ketentuan dari Pertamina tersebut.
“Kami saat ini seperti makan buah simalakama, tidak menuruti Pertamina kami kena sangsi, memberlakukan perintah Pertamina kami kasihan sama masyarakat, jadi kita jalani saja mana bagusnya kedepan”tukasnya.










