Dinsosnakertrans Garut Mendata Anjal di sejumlah tempat.

7.201 dilihat

GARUT, Buana Indonesia– Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kabupaten Garut kini tengah gencar-gencarnya melakukan pendataan ulang keberadaan anak jalanan (anjal) di sejumlah tempat.

Pendataan lebih dikonsentrasikan memuat ‘by name by address’, nama dan alamat anjal, agar upaya penanganannya tepat sasaran, lebih efektif dan efisien. Pendataan dilakukan dengan melibatkan para tenaga kesejahteraan sosial kecamatan (TKSK) di 42 kecamatan di Kabupaten Garut.

Advertisement

Hal itu dikemukakan Kepala Bidang Pemberdayaan dan Pengembangan Sosial pada Dinsosnakertrans Kabupaten Garut Asep Mulyadin, didampingi Kepala Seksi Pengembangan Sosial Dadang Bunyamin, Selasa (30/10).

“Kita ingin pendataan ‘by name by adress’ agar penanganan dan upaya pemberdayaan yang kita lakukan tepat sasaran. Sebab kebanyakan anjal itu nomaden, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, keluar masuk Garut. Sehingga cukup sulit mendatanya secara pasti,” kata Dadang.

Jumlah anjal di Kabupaten Garut sendiri, lanjut Dadang, berdasarkan data sementara yang ada mencapai sekitar 724 anak. Mereka tersebar di sejumlah kecamatan, dengan konsentrasi dominan di pusat kota Kecamatan Garut Kota, Tarogong Kidul, dan Tarogong Kaler. Anjal juga terbilang cukup banyak terdapat di kawasan lintas Malangbong-Wado Sumedang-Ciawi Tasikmalaya.

Dari 724 anjal tersebut, sebanyak 80 persen di antaranya berjenis kelamin laki-laki, dan sisanya perempuan. Mereka berusia antara 6 tahun hingga 18 tahun.

Disinggung tentang merebaknya anjal di Garut kecanduan zat adiktif lem aica aibon, Dadang mengaku prihatin. Namun dia menegaskan, mereka yang terjerumus penyalahgunaan aibon tersebut belum tentu anjal. Bisa jadi di antara mereka anak nakal atau anak terlantar. “Kita belum memiliki data soal anak yang “ngelem” itu. Tapi kita juga ingin pendataan nantinya sampai ke arah sana juga,” ucapnya.

Dinsosnakertrans Garut, lanjut Dadang, dalam waktu dekat akan melakukan pembinaan terhadap 25 anjal. “Mereka yang dibina ini murni anjal. Sedangkan yang lainnya, terutama mereka yang kecanduan lem aibon, itu harus direhabilitasi, dan itu bukan tupoksi (tugas pokok dan fungsi) kami,” tandasnya.(Jaka.s)

Advertisement