Dua Pelajar SMA di Paksa Minum Puluhan Pil Dexstro

14.222 dilihat
(Dua Korban Photo: Almadi)

MUARAENIM, Buanaindonesia.com– Dijaman moderenisasi saat ini, didalam memiliki teman maupun pacar nampaknya perlu hati-hati. selain itu jangan terlalu mudah percaya terhadap seorang kekasi. Salah-salah memilih teman dan terlau percaya bisa-bisa patal akibatnya.

Seperti  dialami  Dua gadis manis yang Berinisial YL (17) dan MT (17) ini. Akibat terlalu percayannya terhadap kekasih, Kedua gadis yang masih bersetatus  pelajar salah satu SMA di Kota Muaraenim, diduga kegadisannya telah hilangan.

Advertisement

Ironisnya, sebelum digagahi oleh kekasinya, kedua gadis remaja ini terlebih dahulu dipaksa oleh pacarnya untuk minum puluhan pil Dexstro,  Akibatnya keduanya  tidak sadar.  saat tidak sadarkan diri inilah Diduga kedua korban dicabuli oleh pacar dan teman-temannya hingga semalaman.

“Kami tidak tahu pasti kejadia setelah tengah malamnya, sebab kepala kami pusing, tidak bertenaga. Kami baru agak sadar keesokan harinya,” ujar kedua gadis dengan polos dan sedikit terlihat linglung saat menceritrakan kejadian itu kepada pihak keluargannya. jumat(23/09/11)

Menurut YL dan MY, kejadian tersebut berawal ketika dirinya (YL) diajak oleh Marta jalan-jalan sore . dengan menggunakan kendaraan roda 2 menuju Tanjung enim. sebelum tiba ditempat kejadian, motor yang digunakan tersebut  sempat terbalik yang mengakibatkab lampu motornya rusak.Kemudian ia masih tetap pergi ke Tanjungenim, namun ketika dilokasi kejadian tepatnya di simpang Jembatan Enim III, ia bertemu dengan Rama, Miki, Dian dan Ajri. Lalu mereka menanawarkan diri untuk memperbaiki lampu sepeda motornya yang rusak.

Kemudian kepala motor mereka dibongkar. Namun hingga sore hari sekitar pukul 19.00, ternyata motor mereka bukan bagus tetapi semakin rusak dan lapunya tetap tidak mau hidup. Lalu mereka menyarankan untuk membeli bola lampu di Tanjungenim meskipun jarak ke Muaraenim lebih dekat.

“awalnya Kami memang ada sedikit curiga, sebab ketika di GOR PTBA, mereka sempat bisik-bisik. Mungkin ketika menghilang itulah mereka beli pil Dexstro. dan minuman kemasan,” ujar YL yang diikuti anggukan oleh MT

Karena  sudah saling kenal, dan masing-masing telah membawa pasangannya akhirnya dengan dua motor bonceng tiga, merekapun melangsungkan perjalanannya menuju ke Tanjungenim. Setibanya  di Tanjungenim, mereka bukannya membeli lampu yang putus, melainkan malah justru kami di ajak ke GOR PTBA untuk menunggu disana, sementara teman-teman lainya dengan alasan akan membelikan minuman supaya tidak mengantuk.

Sekitar pukul 22.00 wib  lanjutnya, Miki (pacar MT) menyuruh setengah memaksa kami berdua untuk minum air kemasan tersebut. Setelah setengah jam kemudian, kepala mereka mulai pusing. Setelah itu, ia disuruh minum obat kuning (Dexstro).

“Awalnya kami tolak, namun karna diancam tidak akan diantar pulang , akhirnya terpaksa kami minum. Usai minum, kepala kami bertambah pusing dan lemas. setelah itu kami berdua diantar ke tempat temanya di Dusun Muaraenim untuk ganti baju sekolah dengan baju biasa. Dalam kondisi sepoyongan setengah sadar kami berdua kembali di ajak ke Jembatan Enim III” urai gadis itu.

Setibanya lokasi Jembatan Enim III lanjutnya, pada tengah malam ia sempat melihat Marta bersama pacarnya Miki, dengan setengah telanjang turun mandi ke Sungai Enim. Tujuan mereka supaya Marta cepat sadar akibat pengaruh obat Dexstro tersebut. “saya bersama pacarnya yang bernama Rama, hanya menonton di pinggir Sungai melihat mereka berdua” tururnya.

Masih kata dia, Setelah selesai mandi,  kami berdua diajak tidur-tiduran di sebuah pondok di areal persawahan dekat jembatan Enim III.“Saya (YL red) dipaksa minum 10 butir pil, sedangkan teman saya MT minum sekitar 20 butir makanya  ia yang paling parah kondisinya. Dan teman-teman laki-lakinya juga minum dan mabuk, hanya Ajri yang tidak minum karena ia nyupir motor,” kata YL.

Dan pada keesokan harinya Rabu (21/9), sekitar pukul 06.00, ia berdua diantar ke rumah temannnya di Dusun Muaraenim tempat ia mengganti baju sebelumnya. Karena kondisi badan masih sempoyongan dan lesu akhirnya mereka berdua tertidur hingga sore hari.

Pada pukul 15.00, ia berdua baru pulang ke rumah, namun karena takut ia memilih ke rumah sepupunya di dekat rumah. Setelah dirumah barulah ia ditanya dan menceritakannya. Mendegar cerita tersebut ikeruan saja  kedua orangtua mereka menjadi berang dan langsung  mengadukan ke Polres Muaraenim.“Kami minta kasus anak kami di proses sesuai hukum” tegas salah seorang keluarga korban.

“Anak kami adalah korban, kenapa kok sepertinya laporan kami tidak ditanggapi  Sebab anak kami tidak dimintai visum, siapa yang percaya dalam kondisi mabuk hingga bermalam kondisi anak kami tidak apa-apa,” cetus  salah seorang keluarga korban tadi

Kapolres Muaraenim AKBP Drs Budi Suryanto, saat dikonfirmasi melalui Kepala SPK Aiptu Rusdi Yahya SH, membenarkan jika adanya laporan tersebut. Namun untuk lebih jelas mempersilahkan menanyakan langsung ke bagian yang berwenang.( ALMADI)

Advertisement