Arist Kunjungi Anak Korban Kebejatan Ayah Di Pandeglang

18.254 dibaca

arist-merdeka-sirait-berkunjung-ke-korban-pencabulan-pandeglang

BUANAJABAR.COM, PANDEGLANG – Setelah melakukan kunjungan ke pendopo bupati Pandeglang, Arist Merdeka Sirait, ketua umum komnas perlindungan anak berkunjung ke rumah korban kekerasan seksual yang dialakukan bapak kandungnya, yang berlokasi di kampung Jatake, desa Cahyamekar, kecamatan Bojong, Pandeglang. Arist Merdeka Siarait terkejut saat mendengar cerita korban yang telah menjadi korban kebejatan ayahnya selama setahun dan dilakukan setiap hari dirumahnya.

Advertisement

Arist mengatakan, bahwa kejadian ini sudah termasuk kategori kejahatan seksual yang berat.

“Ini sudah masuk katagori kejahatan seksual berat kang, dan hukuman yang pantas adalah hukuman kebiri atau seumur hidup.” kata Arist.

agung-suryamal-sosmed

Pengakuan dari korban kekerasan seksual, sebut saja Bunga, gadis berusia 10 tahun yang masih duduk dibangku kelas 6 sekolah dasar itu, cukup membuat Arist terkejut dan tak menyangka bapak kandungnya sendiri, tega melakukan perbuatan tersebut.

“Bahkan menurut pengakuan sang istri, bukan hanya satu anaknya yang menjadi korban, ada dua anaknya lagi yang menjadi korban, satu yang berusia 13 tahun dan satu berusia 1 tahun. Ini namanya keji kang, dalam satu keluarga semuanya ia jadikan pelampiasan nafsu bejatnya, dan perbuatan sang bapak sudah keterlaluan.” ungkap Arist.

Sementara itu orang tua korban, yakni Wartini mengaku sangat kecewa dengan perlakuan suaminya tersebut dan tak menyangka suami yang dia kenal sebagai orang pendiam tega melakukan perbuatan tersebut. Ia pun mengaku suaminya yang berprofesi sebagai dukun kampung adalah sosok yang pendiam dan jarang bergaul dengan tetangga.

“Saya juga gak menyangka pak, ko bisa suami saya tega melakukan perbuatan keji tersebut, padahal itu anaknya sendiri.” ungkap Wartini.

Wartini mengungkapkan, dengan perbuatan suaminya tersebut, ia pun mengaku membuat anaknya jarang bermain apalagi sekolah. Bahkan anaknya sempat meminta berhenti untuk sekolah karena malu kerap diejek oleh teman-teman disekolahnya.

“Mereka bilang mau berhenti sekolah aja pak, karena sering diejek teman-temannya.” katanya.

Untuk kasus hukum suaminya, Wartini mengatakan bahwa anak-anaknya sudah tak mau bertemu lagi dengan sang bapak karena trauma.

(Editor: Ekky)