Labelisasi

42.649 dibaca

Oleh Iu Rusliana

Menyedihkan rasanya, dengan mudah kita menuding  dan memberikan label (labelisasi) saudara sesama Muslim telah anti NKRI, wahabi, syiah, anti kebhinnekaan, atau  bahkan kafir. Padahal tentang siapa yang beriman atau kafir, hanya Allah swt yang tahu. Wahabisme sebagai mazhab teologi Islam adalah fakta, termasuk Syiah dan Sunni.

Advertisement

Tanpa rasa berdosa pula, ada umat Islam yang bersikap nyinyir dan sinis menuding aksi bela Islam sebagai gerakan politik, makar dan bentuk ekspresi keberagamaan radikal. Kolot, otak onta, anti pluralisme dan sederet persangkaan yang dilabelkan.

Bertengkar di media sosial, penuh ujaran kebencian, jauh dari argumentasi cerdas, kritis dan mencerahkan. Ada juga yang sampai tega menyatakan  tidak akan menyolatkan jenazah saudara Muslim lain karena perbedaan pilihan politik. Tidak bisakah kita menahan diri, bersabar untuk menilai orang lain dan menyibukan diri menghisab diri. Sekedar merenung dan mempertanyakan, sudah mendalamkah ilmu agama, lengkapkah informasi yang didapat, sakitkah kalau diperlukan seperti itu?

Rupanya latihan bersama tentang pentingnya keterbukaan pemikiran, berlapang dada menerima kebenaran, kukuh dengan keyakinan namun menghargai sikap berbeda dari orang lain dan bermusyawarah dalam mengambil keputusan masih memerlukan proses panjang. Logika oposisi biner, hitam-putih, kita-mereka, masih menguasai alam pikir umat Islam di level awam hingga tokohnya sekalipun.

Sesat pikir yang bisa menyeret pada konflik tiada akhir. Ketidakwarasan berpikir yang menjadikan solusi membangun sebagai jalan keluar ditolak karena ditentukan oleh siapa yang menyampaikan, bukan apa isi pesan. Kecurigaan kepada pihak lain menguat, api kebencian dipelihara agar tetap menyala dan ego kelompok dikuatkan.

Raja Salman yang datang berkunjung ke Indonesia bersama 1500 anggota rombongannya yang lain dituding akan semakin mengukuhkan  Wahabisme. Bagi sebagian kelompok, kehadiran sang pelayan dua tanah suci itu memberikan angin segar, membawa investasi besar dan sangat menguntungkan. Begitu ramai diperbincangkan, padahal secara langsung tak ada pengaruhnya kepada kita. Tukang ojeg akan tetap tukang ojeg, pun demikian buruh dan rakyat bawah lainnya.

Front Pembela Islam (FPI) dituding sangat radikal, keras, kasar, anti kebhinnekaan, anti demokrasi dan anti toleransi. Kelompok tertentu dinilai penyebar mazhab  Syiah dan sangat liberal. Isu komunis dan kebangkitan PKI kini kembali  dihembuskan.  Mereka yang mendukung Ahok diklaim sebagai kelompok toleran, peduli kebhinnekaan dan pro demokrasi. Begitulah pertarungan wacana di area publik yang tengah berlangsung.

Butuh sikap kritis dan moderat sebagai jalan keluar. Moderat bukan tidak punya sikap, apalagi sekedar cari aman, berlindung dari kelemahan. Beberapa kawan yang keliru memahami sikap moderat menuding bahwa itu model berpikir dan bertindak yang sekedar mencari untung, menyelamatkan diri.

Moderat adalah jalan tengah dari semua sikap yang berkembang atas dasar sikap kritis dan keterbukaan untuk setiap jalan kebenaran yang dipilihkan. Sikap yang dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 143 diilustrasikan sebagai sikap sosial umat yang disebut dengan istilah ummatan wasathan. Kata wasath berarti tengah, pertengahan, moderat, jalan tengah, seimbang antara ekstrim kiri dan kanan. Ummatan washatan adalah umat yang bersikap, berpikiran, dan bertindak adil dan proporsional antara kepentingan material dan spiritual. Prinsip kesimbangan (mizan) menjadi dasar. Tidak perlu berlebihan dan lebay.

Perbedaan pendapat adalah hal yang biasa, tidak perlu merasa benar sendiri. Rasulullah SAW mengingatkan: “Engkau tidak menjadi alim sehingga engkau belajar, dan engkau tidak disebut mengerti ilmu sampai engkau mengamalkannya. Cukuplah dosamu bila kamu selalu mendebat, dan cukuplah dosamu bila kamu selalu menentang. Cukuplah dustamu bila kamu selalu berbicara bukan dalam zikir tentang Allah.” (HR Darimi).

Setiap orang memiliki pengalaman, pengetahuan, dan sikap yang kadang berbeda. Hanya saja, perbedaan itu harus dibingkai komunikasi yang santun, mendorong pada dialog yang terbuka, dan tetap memelihara sikap menghargai satu sama lain. Kebenaran yang disampaikan, tapi bila caranya salah, dengan sikap yang arogan dan ingin menang sendiri, akan diterima salah. Perdebatan yang dilakukan hendaknya terpelihara dari sikap menghinakan lawan bicara. Kebenaran masih proses pencarian, labelisasi itu menyakitkan bagi mereka yang dilabeli, sementara manusia bisa berubah untuk menjadi lebih baik atau kebalikannya. Berdoalah selalu agar memperoleh petunjuk akan kebenaran dari-Nya.

Penulis Adalah Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat

Buana Indonesia Hits And News Radio Online

Agung Suryamal : Kadin Jabar Akan Fasilitasi Pengiriman Tenaga Kerja Indonesia Ke Jepang