
BUANAINDONESIA.CO.ID BOGOR -Pasca terjadinya bencana longsor dan banjir di kawasan selatan dan Puncak Kabupaten Bogor, ratusan warga yang rumahnya ambruk dan tak lagi bisa dihuni memilih mengungsi. Namun disayangkan, hingga Kamis 8 Februari 2018, warga harus mengungsi secara tercecer di masjid, mushola, majelis taklim, rumah tetangga, atau di sanak saudaranya.
Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Sosial (Kadinsos) Provinsi Jawa Barat, Arifin Harun Kertasaputra, mengatakan, mengenai relokasi atau hunian sementara (huntara) bagi korban bencana alam longsor dan banjir masih dalam tahap pembahasan.
“Akan dibahas dulu di tingkat Kabupaten Bogor, oleh Bupati dan BPBD. Kan harus dipersiapkan ke mana-ke mananya relokasi itu. Kalau nanti keputusan yang berwenang nanti harus direlokasi, nanti mana yang bisa ditopang oleh provinsi,” tutur Arifin.
Menjawab tudingan banyak pihak yang menilai pemerintah lamban dalam penanganan bencana, Arifin menegaskan bahwa semua bentuk penanganan sedang berjalan.
“Data sedang dihimpun berapa rumah yang harus direlokasi, nanti dibahas di tingkat Kabupaten. Yang paling berwenang untuk menentukan relokasi adalah Pemkab. Pemkab juga harus mendengar keinginan masyarakat, tidak serta merta dipindahkan begitu saja. Kami menunggu hasil pembahasan di tingkat Kabupaten. Nanti apa yang bisa dibantu oleh kami nanti kita usulkan ke pak Gubernur,” tambah dia.
Mengenai bantuan tanggap darurat dari Pemprov Jabar, kata Arifin, sudah disampaikan ke Kabupaten. Pihak Kabupaten nanti yang selanjutnya mendistribusikan.
Sedangkan jumlah warga yang meninggal akibat terkubur longsor berdasarkan laporan yang masuk ke Dinsos Jabar ada enam orang. Yakni, lima orang meninggal sekeluarga di lokasi longsor Kampung Maseng RT 2 RW 6, Desa Warung Menteng, Kecamatan Cijeruk, dan satu orang lagi atas na Lilis, pedagang yang tertimbun longsor di Jalan Raya Puncak, Kecamatan Cisarua.
Sebelumnya seperti dikatakan Kasi Kesra Pemdes Tugu Utara, Agus Kurniawan, warga saat ini swadaya mendirikan posko bencana.
“Untuk wilayah Puncak, khususnya di Tugu Utara, belum ada dari BPBD. Yang bergerak hanya komponen masyarakat desa yang ada seperti Ecovilage dan para relawan,” tutur Agus.

Agus menjelaskan, sebagian rumah warga ambruk seperti yang dialami Ustad Rusdi di Kampung Cisuren, Tugu Utara. Rumahnya hilang dan tak ada benda yang bisa diselamatkan akibat tergerus air bah. Beberapa rumah lainnya di sekitaran rumah Ustadz Rusdi mengalami hal serupa sehingga harus direlokasi.
Di Kampung Cisuren, sedikitnya 125 jiwa dan 35 Kepala Keluarga harus mengungsi di Majelis Hidayatul Akmaluddin dan Vila Efata. Sementara di Kampung Sukatani, korban mengungsi di rumah warga.
“Saat ini tertacat 153 jiwa yang harus mengungsi terbagi tiga titik. Paling banyak pengungsi di Cisuren,” pungkas Agus.
Editor: NA










