Puluhan Warga Sukabumi Geruduk Hotel Santika

45.317 dibaca
Puluhan warga Kota Sukabumi geruduk Hotel Santika Kota Sukabumi pada senin, 11 Maret 2018. Mereka tak terima dengan tidak dipenuhinya kesepakatan awal yang menyebutkan perekrutan pekerja 40 persen diantaranya diambil dari warga Sukabumi. (BUANA INDONESIA NETWORK/ Diana Novita Hidayat )

BUANAINDONESIA.CO.ID, SUKABUMI–Puluhan warga Kota Sukabumi geruduk Hotel Santika Kota Sukabumi. Mereka tak terima dengan tidak dipenuhinya kesepakatan awal yang menyebutkan perekrutan pekerja 40 persen diantaranya diambil dari warga Sukabumi.

Advertisement

Disebutkan oleh Mulyono koordinator demo, pihak manajemen Santika dirasa tak bisa memenuhi janji kesepakatan awal.  Sehingga pihaknya  menginginkan sebuah konformasi yang baik,  karena menurutnya dari awal pembentukan Santika itu berdasarkan komunikasi dan kesepakatan dengan warga.

“Diawal kan  sudah sepakat, perekrutan tenaga kerja, 60-40,40 persen diantaranya direkrut dari warga sekitar. Tapi sekarang mereka malah mengabaikan kesepakatan,” terangnya, Senin 12 Maret 2018.

Mulyono juga menyebut, bahwa Kedatangannya itu juga untuk mempertanyakan kesepakatan 40-60 itu seprti apa. Jika managemen telah merekrut para pekerja  dari luar.  Pihaknya meminta tata etika sopan santun pihak hotel tetap dikedepankan.

“Kami datang itu untuk meminta keterangan, sistem 60-40 itu seperti apa, kalau emang toh sudah ada perekrutan sopan santunnya dipakai, ” imbuhnya.

Menurutnya dari 40 persen  kesepakatan awal tersebut, sama sekali belum terpenuhi, dengan alasan perjalanan pembangunan hotel belum selesai. Menurutnya jika kesepakatan bisa dijalankan setelah pembangunan selesai maka pihaknya siap menunggu.

“Dari 40 itu paling ada beberapa saja, Kita kasih waktu satu bulan. Jika kesepakatan tidak dipenuhi sesuai dengan kesepakatan awal maka kita akan demo lebih besar,” ujarnya.

Hal ini menurut Mulyono, dilakukan karena kesepakatan awal banyak yang tidak memihak warga, bahkan para pekerja yang sudah direkrut pun kini banyak yang dikeluarkan.

“Kami tidak terima itu, kami juga tidak terima para pekerja yang telah masuk diperlakukan dengan bahasa-bahasa kasar, saya rasa kesepakatan yang dibangun diawal itu sekarang tidak sama sekali memihak warga,” ujarnya.

Mulyono juga meminta pihak Hotel Santika bisa menjelaskan dan menepati janjinya. Sehingga opini yang tersebar di masyarakat bisa terjawab.

“Setelah pertemuan barusan katanya pihak hotel mau menyepakati perjanjian awal, ya mudah-mudahan saja bisa dijalankan. Sehingga tidak akan terjadi hal-hal seperti ini,” ujarnya.

Sementara itu, Deni salah satu bekas pekerja Hotel Santika mengaku telah bekerja di Hotel selama proyek sebagai Security bersama enam teman lainnya, dengan harapan ketika Hotel sudah berdiri bisa tetap bekerja. Bahkan setelah perekrutan pekerja Deni mengikuti prosedur pelamaran pekerjaan. Karena tak kunjung dipanggil Deni memaksakan diri bertanya pada HRD dan Manajemen Hotel, namun Deni hanya mendapatkan kekecewaan.

“Saya kerja dari mulai nol persen pembangunan hotel. Pas hotel jadi saya ngelamar dan mengikuti semua aturan hotel, tapi saya aneh kenapa yang lain di panggil saya tidak. Saya awalnya positif aja dulu, kayaknya saya engga bakalan dipanggil-panggil pasti langsung kerja, dan saya tanyakan ke HRD dan Manajemen, jawabannya kalau mau jadi securiti harus daftar ke Yayasan yang nantinya saya megikuti pelatihan selama 21 bayar Rp2,5 juta, saya duit dari mana,” jelasnya

Sehingga Deni Supriatna meminta pihak Hotel bisa menolong bagaimanapun caranya bisa bekerja dan mengikuti pelatihan.

“Katanya saya dengan enam orang teman lainnya, mau diperjuangkan ya mudah-mudahan saja,” tutupnya.

Sampai berita ini diturunkan pihak Hotel Santika belum bisa dimintai keterangan apapun.