BMKG Imbau Warga Tampung Air Antisipasi Kekeringan

12.629 dibaca
Salah satu contoh instalasi untuk memanen air hujan yang diterapkan salah satu pabrik di Bogor. BMKG menghimbau masyarakat menampung air untuk mengantisipasi terjadinya kekeringan pada musim kemarau yang diperkirakan mulai Mei 2018.(BUANA INDONESIA NETWORK/Acep Mulyana)


BUANAINDONESIA.CO.ID, BOGOR- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Bogor memprediksikan awal Mei 2018 sebagian wilayah Jawa Barat bakal memasuki musim kemarau.

Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Bogor, Budi Suhardi, menghimbau masyarakat segera menampung air untuk mengantisipasi kekeringan. “Diprediksi kawasan Pantai Utara awal Mei sudah akan memasuki awal musim kemarau,” ujarnya, Kamis 12 April 2018.

Advertisement

Menurut dia, daerah Kabupaten Bogor seperti Jasinga dan Cariu adalah kawasan yang paling awal mengalami kekeringan. “Pada sepekan ini, cuaca masih berpotensi hujan ekstrem sebagai imbas peralihan musim,” ucapnya.

Hal itu, kata Budi Suhardi, berdasarkan pengamatan yang dilakukan BMKG melihat dinamika atmosfer, kondisi di Samudra Hindia, dan kondisi el nino yang masih lemah.

“Kemudian kami melihat sistem temperatur utara, kami coba mix dengan metode statistik ada beberapa minggu ini masih dalam keadaan kurang baik,” ungkapnya.
Masyarakat dihimbau untuk senantiasa memantau informasi cuaca yang diberikan BMKG setiap hari, termasuk peringatan dini.

“Masyarakat tetap harus mengikuti berita yang ada di BMKG, informasi cuaca dapat dipantau melalui android di info BMKG,” kata Budi.

Terpisah, Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Bogor, M Yaffies, mengatakan, ada beberapa daerah yang memiliki kontur ketinggian tanah di Kota Bogor. Sehingga, apabila terjadi kekeringan, pasokan air pun cenderung menipis.

“Air sungai juga bakal surut. Nah, di Kecamatan Bogor Selatan yang paling banyak,” katanya.

Menurutnya, Bogor sendiri berbeda dengan daerah lain. “Bogor itu masuk daerah di luar prakiraan musim. Jadi tak tergantung mau musim kemarau atau hujan. Kalau sekarang masih aman, kami belum mengeluarkan himbauan tampung air,” ucapnya.

Sementara itu, Direktur PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor, Denny Surya Sanjaya, mengatakan, pihaknya telah menambah dua unit mobile treatment untuk kapasitas 2,5 liter per detik, mengoptimalisasi WTP Dekeng, dan Tangki Air Hysrabt Umum (TAHU).

“Kami juga menyiapkan lima unit portable tangki untuk wilayah yang kekeringan. Ya, sebenarnya tergantung permintaan sih sebetulnya. Seperti pada 2015, ada kekeringan di Kelurahan Mulyaharja, Cimahpar, dan Balumbangjaya, kami bantu pasok TAHU untuk mengatasi krisis air bersih,” paparnya.

Denny meminta masyarakat agar lebih bijak dan hemat dalam menggunakan air bersih. Jika perlu, menampung air ke dalam toren atau bak penampungan, sehingga apabila terjadi gangguan pasokan air dapat teratasi.