BUANAINDONESIA.CO.ID Pandeglang – Pemerintah Kabupaten Pandeglang dinilai tidak serius dalam mengatasi kekeringan yang sering terjadi di Pandeglang. Akibatnya saat musim kemarau tiba, ribuan hektar lahan sawah petani terancam gagal panen.
Kritik itu dilontarkan Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Pandeglang. Ketua KTNA Pandeglang, Anton Khaerulsamsi. Harusnya dari Dinas Pertanian bisa mengantisipasi, karena kan tiap tahun terulang seperti ini. Tapi tidak pernah ada solusinya, Sementara bantuan yang diberikan selama ini, kerap kali tidak maksimal. Misalnya saja, bantuan pompa air yang tidak dibarengi dengan kapasitas selang yang mumpuni. Akibatnya, petani kesulitan menjangkau sumber air.
” Memang sering ada bantuan pompa air. Tetapi tidak penuh karena panjang selang yang diberikan kadang tidak cukup untuk menyedot sumber air,” paparnya.
Masih kata Anton, Belum lagi saluran irigasi yang juga tidak optimal. Anton menegaskan, pembuatan saluran irigasi cacing yang digadang-gadang pemerintah, acap kali sia-sia. Lantaran tidak diikuti dengan pembuatan saluran irigasi sekunder.
” Memang dibeberapa titik pemerintah membuat jaringan irigasi cacing. Namun sayangnya, tidak dibarengi dengan perbaikan atau pembuatan saluran irigasi sekunder, sehingga air tetap sulit mengalir,” jelas Anton.
Hal itu terjadi akibat minimnya koordinasi antara Dinas Pertanian dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR). Sehingga pembangunan saluran irigasi tidak sesuai dengan kebutuhan petani.
” Mestinya, Distan berkoordinasi dengan PU untuk membuat aliran sungai yang bisa mengaliri areal pesawahan,” tambahnya.
Bukan cuma itu, Anton juga mengkritik pembangunan embung desa yang tidak berjalan baik. Karena keberadaannya tidak mampu mengatasi kekeringan yang terjadi di desa. Padahal sejatinya, embung dibuat untuk mengatasi kekeringan yang terjadi.
” Harus Kades di pantau untuk memastikan embung berfungsi dengan baik. Masa setiap tahun terulang seperti ini? Kan tujuan buat embung untuk menampung air bilamana dimusim kemarau kekurangan air, bukan sekadar wisata,” bebernya panjang lebar.
Oleh karena itu, dirinya menuntut pemerintah menciptakan program yang inovatif untuk mengatasi kekeringan. Bila tidak, peristiwa kekeringan akan selalu terjadi di Pandeglang. Parahnya, hal itu akan mengganggu tingkat produktifitas pangan.
” Kekeringan ini kan sebagian besar melanda daerah yang menjadi lumbung pangan di Pandeglang, seperti di Kecamatan Cikeusik dan Sobang. Apalagi kemarau tahun ini, diprediksi akan sampai Oktober, lebih lama dibanding tahun lalu,” tandasnya.










