
GARUT, BuanaJabar.com – Sepertinya kondisi perpolitikan Garut kian hari kian memanas. Puncaknya terjadi hari ini, Kamis 21 Juli 2016. Ribuan warga dan puluhan elemen masyarakat Garut bersatu dan turun ke jalan melakukan aksi protes menyampaikan ketidakpuasan mereka atas kepemimpinan bupati mereka, Rudy Gunawan.
Dibawah kepemimpinan Rudy terjadi beberapa kali tindakan asusila di jajarannya. Terakhir oknum dokter di lingkungan RSUD dr Slamet Garut yang kedapatan mesum dengan ABG di sebuah hotel di area wisata Cipanas Garut. Tak sampai situ, Rudy juga dinilai tidak peka terhadap penderitaan warganya. Ditengah morat-maritnya permasalahan di pemkab Garut, beberapa kali Rudy kedapatan plesir ke luar negeri. Ketidakpekaan Rudy juga terlihat dalam menyelesaikan kisruh pasar Limbangan. Rudy dituding berpihak pada developer pasar Limbangan baru. Puncak kekesalan warga adalah pada tanggal 18 Mei 2016. Ratusan pendemo menggelar aksi blokade jalan Tasikmalaya Bandung. Akibatnya lalu lintas saat itu sempat lumpuh. Aksi ini terjadi setelah kios milik pedagang diduga dibakar agar pedagang mau pindah ke pasar limbangan yang baru dibangun. Lagi-lagi Rudy sebagai bupati dinilai tidak berdaya menyelesaikan permasalahan warga saat itu. Sebelum ini bupati Rudy juga berkali-kali didemo warganya sendiri, termasuk oleh ratusan guru yang tidak puas dengan kebijakan sistem periodesisasi yang diambil bupati. Belum lagi terkait kasus meninggalnya warga di proyek revitalisasi pasar Wanaraja. Saat itu Rudy dinilai melakukan pembohongan publik setelah pernyataannya dianggap ‘asbun ‘ . Saat itu Rudy menyampaikan bahwa pemberitaaan adanya warga yang tewas tertimpa reruntuhan bangunan di pasar Wanaraja adalah bohong. Pernyataan Rudy dianggap menutup-nutupi kejanggalan pembangunan pasar itu. Saat itu sejumlah media massa memberitakan Revitalisasi Pasar Wanaraja Garut memakan korban jiwa. Dua orang pemulung kayu bekas yaitu Dede Mimin (55) dan Asih (50) warga Kampung Rancabatu, Desa Wanamekar, Kecamatan Wanaraja. Sontak pernyataan Rudy ini menyulut emosi berbagai pihak. Sederet permasalahan dianggap masih menggantung dan Rudy sebagai bupati dianggap tidak mampu menjalankan pemerintahan.
Asep salah satu pendemo mengungkapkan kekesalannya pada bupati Garut.
” Tak ada pilihan lain. Bupati harus lengser ” Kata dia
Beberapa periode kepemimpinan bupati sebelum Rudy menjabatpun Garut selalu digoyang isu-isu tak sedap terkait prilaku bupatinya. Sebelumnya bupati Garut terdahulu terpaksa meletakan jabatannya sebagai bupati karena berbagai kasus. Agus Supriyadi misalnya. Oleh KPK Agus terbukti melakukan penyelewengan dana APBD Garut tahun 2004-2007 sebesar Rp10,8 miliar. Dana hasil korupsi itu digunakan Agus untuk membayar utang serta membeli sejumlah mobil seperti mobil Isuzu Panther, Nissan X-Trail, dan Toyota Camry. Selain itu, dia juga terbukti menggunakan uang dari penyelewengan APBD itu untuk membeli rumah di Arya Graha, vila di Cireungit, dan membiayai pembangunan rumahnya di Muara Sanding. Agus menggunakan dana yang dicairkan dari anggaran makan-minum Sekretaris Daerah Garut untuk memperkaya dirinya. Tak cukup dengan itu, Agus juga terbukti menerima gratifikasi dari Ocad Rosadin untuk mencairkan dana talangan dari APBD Garut untuk proyek pembangunan Pasar Cikajang, Garut.
Setelah Agus, ada bupati Aceng Fikri yang sangat fenomenal. Aceng dipaksa turun setelah dirinya melakukan tindakan yang dinilai tidak pantas oleh warganya sendiri. Saat itu Aceng menikahi gadis dibawah umur bernama Fanny Oktora. Akankah bupati Rudy senasib dengan para pendahulunya ?.







