Kemarau, Pandeglang Krisis Air

7.310 dibaca

BUANAINDONESIA.CO.ID, PANDEGLANG – Musim kemarau berpotensi menyebabkan terjadinya kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Banten. Khusus untuk Kabupaten Pandeglang, potensi kebakaran hutan relatif kecil lantaran sebagian besar hutan di Kabupaten Pandeglang adalah hutan produksi. Sementara itu, Pandeglang lebih berpotensi terjadi kebakaran lahan yang diakibatkan kelalaian seperti masyarakat membuang puntung rokok kemudian membakar ilalang, yang lebih pastinya sekarang ini musim kekeringan, terutama air kebutuhan masyarakat.

” Kalau potensinya relatif kecil untuk kebakaran hutan, yang ada itu kebakaran lahan tapi akibat kelalaian, bahkan yang lebih rawan adalah kekeringan Air sehingga banyak beberapa wilayah yang sudah kesulitan Air bersih, tapi langkah itu sudah kita tangani dengan mengirim Air bersih pada wilayah yang di anggap paling parah kekeringnnya,” ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pandeglang Dadi Supriyadi,

Advertisement

Namun, lanjut Dadi, dampak yang ditimbulkan tidak signifikan, apalagi api dapat dipadamkan dalam kurun waktu singkat, sekitar 2 jam, yang sekarang kita tangani adalah bencana kekeringan, dengan banyaknya keluhan masyarakat terkait kekurangan air bersih, maka kita semua anggota bergerak mengirim air bersih,

” Dampaknya tidak signifikan karena di Pandeglang bukan lahan gambut, yang insten adalah kebutuhan Air bersih yang terus kita lakukan, wilayah Cikesik , Angsana dan Kecamatan yang lain, mudah mudahan bisa terpenuhi, ” tuturnya.

Dadi menambahkan, kecilnya potensi kebakaran hutan dan lahan membuat BPBD Pandeglang tidak membentuk tim khusus penanganannnya. Hanya saja BPBD Pandeglang menyediakan posko rutin yang terletak di Kecamatan Panimbang. Dimana posko ini dibentuk untuk menangani bencana secara umum seperti banjir, gempa, tsunami, kekeringan yang sekarang kita tangani, dan bencana lainnya.

” Tidak ada tim khusus Karhutla yang dibentuk karena dampaknya tidak signifikan. Kalau posko kita rutin, posko kita di Panimbang bukan hanya untuk itu (Karhutla) tapi untuk kebencanaan, ” ungkapnya.

Untuk diketahui, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di Serang telah merilis prakiraan cuaca, dimana puncak kemarau terjadi pada September hingga Desember 2017 mendatang.