Garut, Buanaindonesia.com – Kisruh yang terjadi di pembangunan pasar Limbangan dinilai berbagai pihak berawal dari ketidaktegasan bupati Garut Rudy Gunawan terhadap pengembang pasar PT Elva Primandiri.
Sekretaris Aliansi Masyarakat Untuk Hak Asasi Manusia, Demokrasi dan Keadilan hukum ( Amandemen ) Cepi Alhumaedi mengatakan jika sejak awal bupati Garut cermat dan tegas, tidak akan terjadi kisruh berlarut-larut di pembangunan pasar Limbangan.
” Coba bupati dapat berfikir jernih atau setidaknya jangan ada keberpihakan, berani menegur pengembang, bilang pada pengembang untuk tidak hanya berorientasi profit, permasalahan ini akan selesai. Pedagang disana hanya ingin pengembang tidak arogan. Jangan menjual kios pada orang diluar pedagang lama sebelum pedagang lama terakomodir. Turunkan harganya, jangan di 9,5 juta permeter. Untuk di Garut harga itu sangat tinggi. Tapi mana kenyataannya, bupati memilih mengambil langkah menyegel. Apa bupati tidak tau berapa uang yang sudah masuk ke pengembang dari hasil penjualan kios. Itu bukan nilai sedikit, 18 milyar. Kenapa pengembang hanya masih berfikir profit dan profit. ” Kata Cepi.
Lebih lanjut Cepi mengungkapkan ketidaktegasan bupati sangat tidak beralasan
” Dimata publik sangat tidak beralasan. Tapi kita tidak tau dari kacamata beliau ( bupati ). Kenapa bupati sepertinya tidak berani tegas pada pengembang. Ada apa? Itu tanda tanya besar. Dengan langkah menyegel, itu bukan pengembang yang dirugikan. Ingat pak bupati, banyak pihak yang dirugikan, termasuk uang para pedagang yang sudah disetor ke PT Elva. Coba dengar keluhan warga. Sekarang tinggal menunggu kecermatan bupati saja, jangan sampai masalah ini dimanfaatkan pihak-pihak yang ingin masalah ini makin keruh” Ungkap Cepi.
Pernyataan Cepi ini diperkuat oleh sumber kami yang tidak ingin namanya disebut. Sumber menyebut PT Elva Primandiri sudah meraup uang cukup banyak dari hasil penjualan kios.
” 18 Milyar pak. Kalau mau buka-buka an, ada kios yang dijual sampai harga 30 juta per meter. Tinggal kejujuran saja dari PT Elva. Tinggal niat baik. Kalau bupati mau segel-segelan kenapa gak dari dulu, kenapa menunggu semua rampung, kenapa tidak sejak keputusan PTUN diketok. Itu keanehan. Hanya bupati dan pengembang yang tau alasannya ” Ujar sumber.
Sementara itu, Elva Waniza, direktur PT Elva Primandiri dalam satu wawancara menyebut dirinya sudah terlampau baik dengan menurunkan harga kios.
” Bayangkan, kurang baik apa saya, harga dari 12,5 juta menjadi 9,5 juta. Itu sudah saya lakukan ” Kata Elva.
Sebelumnya diberitakan pemerintah kabupaten Garut menyegel pasar Limbangan, rabu (27/01) kemarin. Penyegelan ini menyusul protes warga karena menilai pendirian pasar Limbangan ini tidak memiliki perijinan dan kajian Amdal.
Editor : M.I








