
BUANAJABAR.COM, BANDUNG – Sejumlah massa berunjukrasa menolak digelarnya kegiatan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) Natal 2016 yang dilaksanakan di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) ITB, Jalan Tamansari, Bandung. Mereka meminta kegiatan keagamaan harusnya digelar di gereja dan bukan di gedung atau fasilitas umum.
Salah satu perwakilan massa, Mohammad Roin Balad, kegiatan KKR melanggar SKB tiga menteri.
“Ketika KKR mereka mengundang juga agama lain selain Kristen. Sedangkan dalam SKB tiga menteri sudah jelas bahwa sebuah keyakinan agama tidak boleh mengundang atau mengajak agama lain ke kegiatan agamanya. Apalagi dilakukan secara massive dan terbuka seperti ini,” kata Mohammad Roin Balad di Bandung, Selasa
Sementara itu, Wakil Ketua Partai Solidaritas Indonesia Jawa Barat, A.M Yusup menilai, pembubaran KKR sah jika ada kekeliruan dalam kegiatan tersebut, tetapi harus dilakukan secara manusiawi.
“Jika memang terbukti ada kekeliruan, ya harus diselesaikan secara benar dan manusiawi. Itu pun dengan catatan tidak dibenarkan kalau main hakim sendiri, harus dengan pihak yang berwajib. Bukan masalah mayoritas atau minoritas.” Kata Yusup.
A.M Yusup mengungkapkan bahwa Partai Solidaritas Indonesia (PSI) adalah sebuah partai yang mengusung keberagaman dan solidaritas. Intoleransi tidak dibenarkan.
“PSI menjunjung rasa toleransi. Intoleran tidak dibenarkan. Tapi hukum tetap yang tertinggi, siapa pun orangnya harus tunduk terhadap hukum dan aturan yg berlaku.” ungkap Yusup.
Sementara itu, Pemerhati sosial dan Ketua Pusat Studi Politik dan Keamanan (PSPK) Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Prof. Muradi mengatakan, perlu ketegasan aparat agar kejadian serupa tidak terus terjadi. Jika dibiarkan bukan hal tidak mungkin, Indonesia akan dipetakan menjadi bangsa yang intoleran.
” Saya kira perlu ketegasan aparat. Ini tidak boleh lagi terulang, kalau terulang terus kita terpetakan sebagai negara yang intoleran. Itu akan mengurangi citra Indonesia dimata publik. Sementara disatu sisi kita mengagung-agungkan kebhinekaan, pancasila dan lain sebagainya, sementara kita melakukan pembiaran terhadap penyimpangan yang terjadi secara terus menerus, ” Kata Muradi
(Editor: Ekky El Hakim)










