
Pekan ini, calon jamaah haji Indonesia mulai berangsur berangkat menuju Tanahsuci. Keberangkatan mereka, jelas, memenuhi panggilan Allah menunaikan ibadah haji. Keberangkatan mereka juga bukan tanpa tantangan. Salah satunya, secara teknis, karena mendapat giliran berangkat sesuai keterbatasan kuota. Ribuan orang masih menunggu antrian untuk mendapat panggilan. Tapi faktanya memang tidak sesederhana yang dapat dibayangkan, jumlah kuota masih sangat terbatas.
Pada posisi seperti inilah, orang-orang yang mendapat giliran berangkat ke Tanah suci tahun ini merupakan sebahagian hamba-hamba-Nya yang mendapat giliran. Meski alasan rasionalnya jelas, karena telah melunasi dan memenuhi semua ketentuan yang disyaratkan, tapi harus diakui bahwa keberangkatannya tetap atas izin Allah SWT. Bahkan dalam hal apapun, kita tidak bisa menafikan campur tangan Allah atas kejadian ataupun ketidakjadian sesuatu itu.
Karena begitu “misterinya” perjalanan yang satu ini, perjalanan haji seringkali disebut sebagai perjalanan ruhani, sebuah wisata spiritual untuk memenuhi panggilan-Nya. Disebut perjalanan ruhani karena tidak ada satu napaspun atau sejengkal langkahpun yang terlepas dari kesadaran atas Kemahakuasaan Allah.
Bayangkan, seorang jamaah calon haji sejak awal telah terkondisikan oleh isak-tangis keluarga yang akan ditinggalkannya. Mereka menyiapkan semua bekal layaknya untuk sebuah perjalanan yang mirip dengan sebuah pengembaraan. Seperti akan meninggalkan untuk selamanya, setiap keluarga dan handai tolan memberikan do’a yang tak henti-hentinya diucapkan.
Lalu berangkatlah para jamaah itu dengan sebuah harapan kesucian. Keesokan harinya, tubuhnya mulai terbungkus rapih dengan kain putih, bersih, suci, yang sekaligus melambangkan ketulusan total hanya pada-Nya. Mabrur adalah identitas yang dikehendakinya, sebuah identitas yang melambangkan kesucian eksistensi pasca kehadirannya di Rumah Tuhan. Sebab, kehadirannya di rumah itu, bukan sekedar datang dan berkunjung, bersujud, dan berdo’a, tapi juga berupaya menggenapkan eksistensinya selain memanusiakan dirinya juga menghambakan kepada-Nya.
Maka jadilah hamba Allah yang utuh dan seimbang seperti yang dikehendaki-Nya. Eksistensinya sebagai hamba Allah bukan berarti hanya memelihara kualitas hubungan vertikal (habl min Allah), tapi juga secara otomatis akan berimplikasi pada meningkatnya mutu hubungan horizontal dengan sesamanya (habl min al-nās) yang menjadi penggenap kemanusiaannya. Inilah di antara indikator yang secara empirik dapat dilihat setelah mereka kembali ke tanah air, menyatu kembali dengan keluarga dan sesamanya.
Jadi, kualitas ke-mabrur-an seseorang yang telah menuntaskan kelima rukun Islam itu bukan hanya berdampak pada kualitas dirinya secara pribadi, tapi juga sejatinya dapat berdampak pada kualitas hubungan sosial dengan siapapun yang ada di sekitarnya. Penghargaan dan solidaritas sosial yang meningkat merupakan salah satu perwujudan kesalihan seseorang yang telah bertamu ke rumah Tuhan. Mereka akan memberikan warna baru dalam kehidupannya sesuai dengan nilai-nilai yang pernah dialaminya tatkala menjalankan prosesi teologis sebagai tamu Allah.
Karena itu ada yang menyebutkan bahwa perjalanan ibadah haji itu merupakan tahapan-tahapan pengalaman dari sebuah perjalanan ruhani yang akan membekas kuat dalam perjalanan hidup sesudahnya. Perjalanan ibadah haji adalah sebuah proses penyucian yang disimbolisasi secara dramatis mulai dari pelucutan pakaian kesombongan dan menggantinya dengan pakaian baru yang serba sama dan sederhana. Tahapan-tahapan prosesi haji yang diawali dengan berihram, wukuf, mabit dan jumrah, semuanya merupakan simbol-simbol teologis yang harus dilalui dalam ikhtiar penyucian diri.
Tidak berlebihan jika Allah sendiri yang akan menghadiahkan bonus terbesar sepanjang hidupnya, yaitu bahwa bagi mereka yang dapat melewati seluruh prosesi itu dengan tulus, ikhlas, dan hanya karena-Nya, Allah janjikan eksistensi baru yang suci, bersih, sebersih manusia yang baru dilahirkan. Dosa-dosanya diampuni, harapan-harapannya dikabulkan, derajatnya dinaikkan di sisi Allah.
Pada saatnya nanti, mereka akan pulang, kembali menjadi bagian dari keluarga besar kita, kembali menjadi bagian dari masyarakat kita. Bedanya, mereka baru saja menjadi tamu-tamu Allah yang istimewa; mereka baru saja mendapat jamuan khusus dan istimewa dari Allah. Tidak semua orang dapat menjalani peristiwa istimewa ini, meski, mungkin, secara rasional dan matematis, semua orang dapat melakukan ini. Buktinya, hingga keberangkatan mereka, berapa banyak orang yang belum juga dapat berangkat, padahal semua ketentuan telah dipenuhinya.
Giliran kita semua saat ini adalah, mengantar mereka seraya dengan tulus mendo’akan mereka agar lancar mengikuti setiap proses yang harus dilaluinya sesuai sunnah-sunnah Nabi utusan-Nya.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, menjelang tibanya bulan Zulhijjah, ribuan orang berbondong-bondong meninggalkan kampung halamannya, bergegas menuju Tanahsuci Makkah Almukarramah dengan penuh suka cita. Kepergian mereka hanya untuk satu tujuan, mengikuti sebuah drama teologis, menapaki jejak-jejak ajaran seperti dicontohkan Rasulullah, menunaikan ibadah haji pada tanggal 8-12/13 Zulhijjah.
Inilah saat yang ditunggu-tunggu dan dimimpikan oleh setiap Muslim. Dalam rentang waktu satu tahun, hanya pada tanggal-tanggal itu ibadah haji dapat dilaksanakan (miqat zamani) dan hanya di tempat-tempat tertentu pula (miqat makani) ibadah haji dapat dituntaskan. Dengan alasan apapun, ibadah haji tidak bisa dilaksanakan di luar waktu dan tempat yang telah ditentukan itu.
Secara teknis juga hampir dipastikan, khusus untuk jamaah haji reguler dari Indonesia, tidak bisa kurang dari 40 hari. Hal ini karena menyangkut teknis transportasi dan banyaknya jumlah jamaah. Pemerintah, khususnya pihak Kementerian Agama pernah merencanakan mempersingkat lamanya perjalanan haji. Tapi, seperti diakuinya, sangat sulit dilakukan, terutama menyangkut keterbatasan transportasi. Keterbatasan dimaksud bukan hanya menyangkut jumlah penerbangan, tapi juga penjadwalan landing di Bandara Internasional Jeddah ataupun Madinah.
Akhirnya kita semua pasrah dengan kenyataan seperti itu, kita jalani dengan tulus lama perjalanan yang tetap pada posisi sekitar 40 hari. Selamat menjalankan ibadah haji, khususnya jamaah haji asal Kota Bandung, Labbaik Allahumma Labbaik, semoga memperoleh derajat mabrur seperti yang dijanjikan-Nya. ( Oleh Prof Asep S Muhtadi, Wakil Ketua MUI Kota Bandung)







