BUANAINDONESIA.CO.ID, LEBAK BANTEN – Pelaksanaan pembangunan jembatan Cidadap di Desa Wanasalam Kecamatan Wanasalam Kabupaten Lebak sampai saat ini tak kunjung selsai. Padahal, jembatan tersebut merupakan akses utama yang dilalui pengendara roda dua mau roda empat.
Pasalnya saat jembatan itu dibongkar oleh pihak pemborong justru tidak membuat jembatan sementara terlebih dahulu untuk para pengendara yang akan melintas. Padahal, saat ini cuca di Kabupaten Lebak tengah memasuki musim penghujan. Alhasil, seluruh kendaraan yang melintas baik roda dua maupun roda empat harus memutar balik karena air sungai meluap.
Berdasarkan pantauan media dilokasi sudah memasuki hari ke dua pengendara roda dua dan roda empat tidak bisa melintas di jalur tersebut. Bahkan, untuk bisa melewati genangan air warga sekitar harus menggotong kendaraan roda dua agar bisa melintas.
Parahnya lagi, Karena, pihak pelaksana terkesan tidak mengindahkan atas apa yang menjadi permintaan warga. Masyarakat membuat jemabatàn perlintasan dari kayu, namun ketiak air meluap jembatan tersebut terendam banjir
Pengendara khususnya roda empat yang melintas dijembatan tersebut, harus membayar kepada warga sekitar yang membuat jembatan semenatara, sebagai bentuk dari retribusi karena jalan lintas sementaranya di buat oleh warga. Sementar itu, dari hasil penelusuran wartawan, saat membuka LPSE.lebak.go.id jembatan Cidadap Kecamatan Wanasalam itu dibiayai dari Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah (APBD) tahun anggaran 2020. Sebesar RpRp871.000.000,00 yang dimenangkan oleh CV.Dua Saudara yang beralamat di Jalan Kota Baru Rt 004 Rw 011 Kelurahan Muara Ciujung Timur Kecamatan Rangkasbitung.
Salah seorang pengendara roda dua yang melintas Arif mengeluhkan atas proyek jembatan yang saat ini tak kunjung rampung. Karena, saat ia hendak melintas justru kendaraan yang ia tunggangi justru harus mati karena terendam air.
” kenapa pihak pelaksana tidak membangun jembatan sementara dahulu kan disini itu sering banjir kalau musim hujan,” kata Arif. Sabtu 31 Oktober 2020.
Terpisah, Penjabat Sementara (PJS) Kepala Desa Wanasalam Dadan saat dihubungi melalui sambungan seluler oleh tim media mengakui bahwa daerah itu kerap dilanda banjir saat musim penghujan tiba. Bahkan, sebelum jembatan itu dibongkar pihaknya juga dilibatkan untuk bermusyawarah. Akan tetapi, ia mengaku tidak bisa berbuat banyak lantaran proyek itu sepenuhnya menjadi kewenangan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Lebak.
” Sebelumnya dari pihak desa juga ikut bermusayawarah karena itu masuk ke wilayah desa wanasalam. Tapi, yang lebih berwenang ada di Kecamatan karena ini koordinasinya langsung dengan DPUPR,” pungkasnya.








