

BUANAINDONESIA.CO.ID, PANDEGLANG,- Sungguh malang nasib nenek Surtinah warga Kampung Lebak Dana RT.07/03 Desa Saketi Kecamatan Saketi Kabupaten Pandeglang, nenek Surtinah tinggal Sebatang kara di gubug yang sangat tidak layak huni, kondisi tempat tinggalnya yang sangat memprihatinkan. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, nenek Surtinah mengandalkan pemberian dan perhatian dari para tetangganya. Nenek Surtinah dengan gubug berukuran kurang lebih 5×6 meter persegi dibalut oleh bilik (geribik) terlihat dalam kondisi yang nyaris roboh, adalah satu-satunya warisan dari sang suami yang telah meninggal dunia beberapa tahun lalu.
Nenek Surtinah yang setiap harinya hidup dalam kekurangan ini, sebenarnya sangat berharap sekali, adanya uluran tangan dari para dermawan, khususnya dari Pemerintah. Karena selama ini menurut pengakuannya, dirinya tidak pernah mendapat bantuan apa pun dari pemerintah, bahkan program Kartu Indonesia Sejahtera (KIS), maupun Program lainya yang di peruntukan orang yang sangat tidak mampu, belum pernah dia dapatkan selain Rastra yang di dapatkan.
Dari informasi yang dapat di himpun, terkait kehidupan Nenek Surtinah ini, rupanya sungguh jauh lebih memilukan. Dari pengakuan beberapa orang tetangganya, Nenek Surtinah sama sekali tidak pernah menerima program bantuan apapun dari Pemerintah. Sehingga ketika yang lain mendapat bantuan, nenek tua itu hanya menjadi penonton,

“Kasihan memang melihat kondisi Nenek Surtinah itu. Karena memang sejak sepeninggal suaminya, Nenek Surtinah hidup sebatang kara, tidak punya anak dan tidak pula mendapat bantuan apa pun dari pemerintah, meskipun kondisi ekonominya terbilang cukup memprihatinkan, ditambah kondisi rumahnya juga yang nyaris roboh itu,” jelas salah seorang tetangga Nenek Surtinah, yang tidak mau menyebutkan namanya.
Masih menurut sang tetangga, bahwa dulu Nenek Surtinah saat masih sehat, dia sempat menjadi buruh di salah satu rumah industri (Home Industri), sebagai buruh bungkus kerupuk. Dan sejak usianya mulai menua, dengan pendengarannya yang semakin berkurang, Nenek Surtinah akhirnya berhenti, atau tidak lagi bekerja di pabrik kerupuk itu.
“Ya mudah-mudahan Nenek Surtinah bisa dapet perhatian dari pemerintah. Soalnya untuk sementara ini setahu saya nenek cuman dapet raskin (Rastra) saja. Harapan kita sih, mudah-mudahan ada dermawan, atau program dari pemerintah, untuk membedah rumahnya, karena kasihan udah hampir roboh rumahnya,” tutupnya.










