Pakar Politik : Apabila Mesin Politiknya Tidak Jalan, Paslon Asyik akan Berat

16.879 dibaca
Pakar politik Universitas Katholik Parahyangan, Asep Warlan Yusuf, satu diantara ukuran-ukuran elektabilitas adalah sejauh mana para paslon memiliki visi, misi dan program yang mengena kepada rakyat atau pro rakyat, Kamis, 15 Maret 2018. ( BUANA INDONESIA NETWORK/ Dini Kamilani ).

BUANAINDONESIA.CO.ID, BANDUNG- Beberapa lembaga survey merilis elektabiltas pasangan calon Cagub dan Cawagub Jawa Barat, diantaranya survey Litbang Kompas yang menyebutkan elektabilitas pasangan Ridwan – Uu sebesar 39,9 persen, Deddy -Dedi sebesar  42,8 persen, Sudrajat – Syaikhu 7,8 persen dan Hasanuddin-Anton 3,1 persen. Adapun 6,4 persen responden tidak menjawab atau rahasia, Kamis, 15 Maret 2018.

Advertisement

Menurut pakar politik Universitas Katholik Parahyangan, Asep Warlan Yusuf, satu diantara ukuran-ukuran elektabilitas adalah sejauh mana para paslon memiliki visi, misi dan program yang mengena kepada rakyat atau pro rakyat.

“Satu diantara faktor mengapa saya pilih dia, begitu ya, visi misi program itu tercermin diantaranya dalam forum debat publik debat antar kandidat,” kata Asep Warlan.

Asep menilai, Ridwan Kamil sangat sistematis, substantif dan teruji oleh medsos bahwa dia mendapatkan tempat, sehingga menarik untuk dijadikan pilihan. Akan tetapi itu saja tidak cukup, Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi adalah figur yang merakyat yang dekat dengan orang-orang yang mungkin saja tidak dilirik oleh partai lain, sehingga kemungkinan besar antara Rindu dengan 2 DM akan semakin ketat. Meski pun begitu, lanjutnya, keduanya jangan lengah, paslon nomor tiga bisa saja menyalip.

“Karena Asyik ini menurut saya kuda hitam, kenapa, karena didukung oleh banyak ormas Islam, tokoh-tokoh Islam,” tambahnya.

Asep memaparkan, boleh jadi meskipun dalam tampilan debat publik itu tidak menarik, tapi dibawah kerja, PKS adalah mesin politik yang paling efektif bekerjanya.

“Maaf ya, kalau partai lain sepertinya ada logistik, baru jalan. Kalau PKS nggak, ini ibadah, ini kamu harus taat pada ustadz, mereka jalan tanpa harus didukung oleh logistik. Partai lain, mana buat bensinnya, mana buat konsumsi. Nah PKS adalah salah satu partai yang bagus dalam bekerja,” paparnya.

Asep menilai elektabilitas Asyik masih di bawah, bahkan tidak masuk pada angka 10 karena pengertian elektabilitas dalam konteks ini masih dilihat dari debat publik kemarin, jika dilepaskan mungkin saja hasilnya akan berbeda.

“Ini menarik, mereka bisa menyaingi Rindu dan 2 DM, jadi menurut saya sekarang ini rasa-rasanya yang ditanya itu ikut nonton debat publik? Ikut, anda pilih mana? Nah gitu, jadi pertanyaannya disodorkan dengan referensi itu,” ungkapnya.

“Tapi kalau dilepaskan dulu, mungkin saja nomor tiga bisa melaju, atau bisa tenggelam sama sekali. Ketika didebat, dia (poaslon nomor tiga) memble dan apabila mesin politik tidak jalan sama sekali, ini berat,” pungkasnya.

Editor : NA