Poros baru bubar !. Akankah Ada Mitos ‘ Kutukan Survey ‘ ( Lagi ) Di Pilgub Jabar ?

7.712 dibaca

BUANAINDONESIA.CO.ID, BANDUNG – Poros baru ditinggal PAN dan PPP. Dengan demikian hanya tinggal Demokrat dan Gerindra yang tetap konsisten berada pada poros ini. ‘ Pergi ‘ nya PPP seiring partai itu mengumumkan secara resmi dukungannya pada Ridwan Kamil bersama Nasdem dan PKB . Sedangkan PAN memilih   mendukung Deddy Mizwar ketimbang bersama –sama Demokrat dan Nasdem. 

“ ya bagaimana, itu kan maunya mereka di DPP. Kita masih kontak-kontakan ( antar ketua partai yang ada di Jawa Barat ). Biarlah itu kan maunya DPP. Yang penting tidak ada persaingan. Berarti tinggal pak SBY dan Gerindra. Yang penting kan kita konsisten saja. Calon Gubernur  itu cuma DM ( Dedi Mulyadi), Demiz ( Deddy Mizwar ) dan RK ( Ridwan Kamil ) ?, yang lain itu hanya bisa jadi wakil ?, “ kata ketua DPD Jawa Barat Partai Demokrat, Iwan R Sulandjana pada Buana Indonesia, kamis 26 Oktober 2017.

Advertisement

Terkait ini, Pengamat politik dari Universitas Padjajaran Prof Muradi mengatakan, partai politik jangan sampai terjebak dalam mitos ‘ kutukan survey ‘ dalam memilih calon pemimpin Jawa Barat

“ itu kan ( kutukan survey ) mitos saja sebenarnya, tapi itu kerapkali berulang. Pada 2008 pak Agum Gumelar itu kan dianggapnya tokoh nasional, kenyataannya dikalahkan oleh Aher dan Dede Yusuf. Ada faktor Dede Yusuf disitu. 2013 kejadiannya kurang lebih sama, hanya sedikit perbedaan, waktu itu kan posisi pemenang ( unggul dalam survey ) Dede Yusuf dan Lex Leksamana ya. Dalam mengukur orang ( figur yang akan diusung), menilai orang partai politik harus bisa menilai komprehensif. Bukan hanya survey. Kalau Survey itu kan  kondisi hari ini. Katakanlah misalnya RK menang, ya kondisi hari ini, bukan kondisi nanti,  4 6 bulan yang akan datang. Kerja – kerja politik, momentum politik, tim sukses punya kontribusi dalam pemenangan. Katakanlah Aher saat itu ( 2013 ) ditinggal Dede Yusuf, dia ( Aher ) punya strategi lain dengan menggandeng Demiz, ada bansos itu lho, lalu membuat orang lebih memilih dia (Aher) pada putaran kedua. Ya kembali lagi ‘kutukan ‘ itu, ya parpol harus bisa komprehensif, karena dalam politik itu satu ditambah satu hasilnya bukan dua,tidak boleh hanya survey, tapi bagaimana memperkuat basis. Survey itu kan cuma simulasi saja. Kalau Parpol memilih hanya karena survey, ya sepertinya harus dievaluasi lagi, “ kata Muradi

Sebelumnya dikabarkan, Partai Amanat Nasional (PAN) mengusung Deddy Mizwar  sebagai bakal calon Gubernur Jawa Barat 2018. PAN mengaku, pengusungan Wakil Gubernur Jabar tersebut dilatarbelakangi aspirasi yang selama ini dibangun oleh pengurus partai baik daerah dan pusat.‎ Hal ini dikatakan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan dalam jumpa persnya di sebuah rumah makan di  Jalan Djundjunan Pasteur, Bandung, Rabu 25 Oktober 2017 kemarin.

Sementara itu, seperti juga PAN, Partai Persatuan Pembangunan ( PPP) memilih meninggalkan poros baru. PPP memilih mendeklarasikan dukungannya untuk RK pada Pilkada Jawa Barat 2018. Deklarasi dukungan dilakukan di Kantor Sekretariat Nasional Badan Pemenangan Pemilu (Seknas Bappilu) DPP PPP, Jalan Tebet Barat IX, Jakarta Selatan, Selasa 24 Oktober 2017. Ridwan Kamil menghadiri acara ini bersama Ketua Umum PPP Romahurmuziy dan Sekretaris Jenderal PPP Arsul Sani. Dengan penetapan dukungan PPP, RK mengantongi cukup modal jumlah kursi dukungan parpol untuk maju Pilgub Jabar, yakni 20 kursi.