Profesi Wartawan Tercoreng Ulah Tertangkapnya Oknum Wartawan Di Garut

21.414 dibaca


BUANAINDONESIA.CO.ID, GARUT – Kalangan lembaga kewartawanan dan pendidikan dihebohkan dengan ditangkapnya dua orang oknum wartawan yang diduga melakukan pemerasan terhadap Kepala Sekolah SMPN-1 Pakenjeng, sehingga mengundang berbagai reaksi dari beberapa kalangan kelembagaan Wartawan di kabupaten Garut, setelah sebelumnya Agus Sopian Ketua Pemersatu Wartawan Reformasi Indonesia Jaya ( PWRI ) Jaya, Kini dua lembaga kewartawanan kabupaten Garut DPC Aliansi Media Masa Nasional Indonesia ( AMMNI ) dan Ketua Lembaga Himpunan Insan Penulis dan Wartawan Indonesia (HIPWI) Kabupaten Garut memberikan komentar serupa terkait dugaan pemerasan yang terjadi Kamis 22 November 2018.

Ketua DPC AMMNI (Aliansi Media Masa Nasional Indonesia ) kabupaten Garut Wahyudin sumantri menyesalkan atas peristiwa tertangkapnya oknum wartawan di Garut Jawa Barat atas tudingan pemerasan, tetapi apabila dalam kontek melanggar hukum dirinya mendukung proses hukum yang berlaku di negara ini.

Advertisement

Wahyu mengatakan, pada dasarnya Lembaga kami mendukung langkah kepolisian untuk memproses kedua oknum wartawan tersebut, tetapi selain dari proses kasus dugaan pemerasannya pihaknya juga meminta kepolisian mendalami dugaan penyelewengan dana Program Indonesia Pintar (PIP) tersebut.

“ Sehingga semuanya akan terang benderang. Jika kasus ini tidak tuntas, maka seluruh nama wartawan akan tercoreng ulah wartawan yang tertangkap di Garut. Di lain sisi Kami mendukung proses hukum dugaan pemerasan oknum wartawan itu, di lain sisi juga Kami mengawal setiap program pemerintah yang turun ke daerah, “ kata Wahyudin, Jumat 23 November 2018.

Terkait dengan masalah konsekuensi hukum kita berpedoman hukum yang berlaku, apabila memang terbukti silahkan proses.
” Dan sebaliknya bagi para pihak sekolah yang memang terindikasi ada penyelewengan masalah anggaran PIP kenapa tidak ikut di proses karena terkait kasus ini kita belum tahu siapa yang salah dan benarnya, karena Fungsi media massa adalah mempunyai tupoksi sebagai kontrol sosial harus dijalankan. Kita berpikir logika lah “Tidak ada asap kalau tidak ada api,” ujar wahyu.

Hal yang sama disampaikan Ketua Lembaga Himpunan Insan Penulis dan Wartawan Indonesia (HIPWI) Kabupaten Garut Deni Permana, kesatu proses hukum harus terus ditegakkan, baik wartawan yang diduga melakukan pemerasan maupun Kepala Sekolah SMPN 1 Pakenjeng yang diduga memangkas dana bantuan PIP, yang kedua kontek hukum yang diterapkan, apakah itu termasuk pungli atau suap atas temuan wartawan yang mau mempublikasikan pemangkasan PIP.

” Kalau merasa benar kenapa meski takut diberitakan, kan ada hak sanggah dan somasi serta klarifikasi berita, tidak perlu ada uang yang diserahkan, kalau itu penyuapan jelas penerima dan pemberi harus dikenakan pidana juga”, terang Deni Permana.

Kini pihak wartawan menunggu keseriusan aparat kepolisian untuk serius memproses kasus ini hingga tuntas dan terang benderang.