
BUANAINDONESIA.CO.ID, BANDUNG – Bandung hampir selalu cerah dan ramai, terutama ketika menjelang sore hari. Suasana kian padat dipenuhi para wisatawan dari daerah mau pun luar daerah, tujuannya untuk menikmati Bandung yang berjulukan Paris Van Java.
Tetapi tidak semua orang bisa menikmati sore hari dengan keceriaan. Rahmat Hidayat salah satunya. Menjelang sore tiba di kawasan Asia Afrika, Rahmat harus segera bergegas memakai kostum dan perlengkapan lainnya, untuk kemudian menjadi ‘Entartaint Jalanan’.
Siapa sangka, pria kelahiran Bandung yang tinggal di daerah Pasirluyu ini harus rela kehilangan waktunya demi mencari sesuap nasi. Profesi yang ia lakoni membuatnya harus terus bekerja agar bisa menambah penghasilan orang tuanya yang bekerja sebagai pembantu.
Apalagi diusianya yang kurang lebih 21 tahun, Rahmat hanya menempuh jalur pendidikan sampai tingkat sekolah dasar. Persaingan kerja yang begitu ketat membuatnya harus memilih bekerja di jalanan. Tentu karena pekerjaan ini tidak terlalu mementingkan syarat pendidikan.
Hasil dari jerih payah Rahmat pun harus dibagi dua, karena kostum yang ia kenakan merupakan sewaan.
“Jadi penghasilan setiap hari harus dibagi dua. Kadang dapet 50, kadang 80 kalau rame, dan dibagi dua sama si bos yang punya kostum,” ujarnya.
Rahmat yang sering menggunakan kostum Ironman ini, melakoni pekerjaannya kurang lebih sudah hampir 7 bulan. Rahmat mengaku hal ini dilakukannya agar bisa menafkahi diri sendiri juga orang tua.
Kesempatan kerja yang sempit karena faktor pendidikan dan kesenjangan sosial yang semakin meluas terjadi di Kota Bandung, dan ini mengakibatkan meningkatnya ketidak sejahteraan ekonomi. Begitupun dengan Rahmat yang merupakan contoh kecil di Kota Bandung. Rupanya, kegagahan, keceriaan dan kesenangan yang Rahmat tampilkan saat berfoto dengan orang lain, tidak sama dengan perjuangan hidupnya demi mendapatkan sesuap nasi.
Editor: NA











