
BUANAINDONESIA.CO.ID, GARUT – Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, dr. Jana M Yajariawati, mengungkapkan penyakit thalasemia hingga saat ini belum dapat disembuhkan dan memiliki komplikasi yang banyak. Pasien thalasemia mayor membutuhkan transfusi seumur hidup untuk dapat beraktivitas secara normal. Di Kabupaten Garut tercatat lebih dari 170 menderita thalasemia mayor, Jumat, 30 Maret 2018.
Menurut Jana, cara untuk mencegah thalasemia adalah dengan melakukan skrining melalui pemeriksaan darah.
“Sebaiknya skrining dilakukan pada usia remaja atau anak sekolah yang sekarang seperti yang sedang dilakukan di Kabupaten Garut,” ujar dr. Jana di sela-sela acara.
Karena dengan cara ini, imbuhnya, penemuan penderita sejak dini akan meningkatkan kualitas hidup penderita thalassemia. Untuk itu, dalam upaya menyosialisasikan serta upaya deteksi dini, Dinas Kesehatan Kabupaten Garut bekerja sama dengan Direktorat Pencegahan dan pengendalian Penyakit tidak Menular Kemenkes RI, selama dua hari mengundang 120 siswa dari tiga sekolah (SMAN 1, SMAN 6 dan SMKN 3). Kegiatan dipusatkan di Aula SMAN 6 Garut.
Acara ini menghadikran para narasumber, yakni dr. Susi Susianah dari RSHS Bandung dan Kepala Subdit Pencegahan dan dr. Niken Wastu Palupi, Pengendalian Penyakit Tidak menular Kemenkes RI Jakarta.
Menurut dr. Susi Susianah, thalasemia merupakan penyakit kelainan darah merah yang bersifat keturunan dan bukan penyakit menular. Penyakit ini disebabkan karena eritrosit (sel darah merah) mudah pecah dan menyebabkan anemia.
Susi menbahkan, ciri penyakit ini diantaranya memiliki riwayat keluarga dengan thalasemia atau sering tambah darah, atau gejala bervariasi yang paling sering pucat dan lemas akibat anemia.
Sementara itu dr. Niken menyebutkan, terdapat 3 jenis thalassemia, yaitu Thalasemia Mayor, dimana pasien ini membutuhkan transfusi darah terus menerus seumur hidupnya, setiap 2 sampai 4 Minggu sekali. Sedangkan Thalasemia Minor, hidup seperti orang normal, tidak mengalami perubahan fisik.
“Namun individu ini memiliki risiko mempunyai anak thalasemia mayor bila menikah dengan sesama thalasemia minor. Oleh karena itu, perlu dilakukan skrining deteksi dini agar thalasemia minor dapat diketahui. Disarankan untuk tidak menikah dengan sesama penderita thalasemia minor”, ujarnya.
Sedangkan jenis yang ketiga, tambah Niken, adalah Thalasemia Intermedia, dimana ia memiliki kadar Hb yang rendah (berkisar 8 sampai 10 gr/dl), sehingga memerlukan transfusi darah, meski tidak rutin.
Editor : NA










