Yena Ma’ soem : Hadapi Pandemi Covid 19, Publik Mesti Diedukasi Soal Penggunaan Masker

12.665 dibaca
Hj Yena Iskandar Masoem, S.Si,Apt Ketua Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Kota Bandung

BUANAINDONESIA.CO.ID, BANDUNG – Ditengah kelangkaan masker standar WHO dipasaran, kini marak bermunculan berbagai produk masker berbahan kain. Beredarnya masker yang tidak memenuhi standar ini dinilai akan memicu persoalan lain.

Advertisement

Hj Yena Iskandar Masoem, S.Si,Apt Ketua Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Kota Bandung mengatakan, publik perlu mendapat edukasi yang lengkap soal masker yang kini banyak beredar di pasaran. Apakah masker – masker tersebut efektif menjadi filter virus, terutama virus covid 19.

“Masker sendiri memiliki tingkatan proteksi tergantung peruntukannya. Hasil studi klinik dan metaanalisis sudah banyak membuktikan bahwa tenaga kesehatan wajib menggunakan masker, terutama masker yang memiliki proteksi besar seperti N95 dan masker surgical (bedah). Masker tersebut diprioritaskan untuk nakes. Hal tersebut didukung oleh data penelitian acak terkontrol (randomized clinical trial, RCT) oleh Macintyre (2015) tentang efektivitas masker medis vs masker kain pada populasi di Vietnam, bahwa masker kain tidak direkomendasikan untuk tenaga kesehatan pada situasi yang beresiko tinggi, “ kata Yena,  Rabu, 8 April 2020.

Lanjut Yena perlu cermati dulu berapa ukuran virus SARS-COV-2 dan bagaimana penyebarannya. Berdasarkan literatur, Virus SARS-COV-2 yang menyebabkan penyakit COVID-19 memiliki ukuran berkisar 0,06-0,14 micron. Virus influenza memiliki ukuran yang mirip, yaitu 0,08-0,12 mikron. Ukuran virus yang sangat kecil menunjukkan bahwa diperlukan suatu filter (saring) yang mampu menangkal penyebaran virus tersebut. Virus SARS-COV-2 menyebar bersama dengan droplet atau cairan yang melekat atau dikeluarkan oleh penderita, misal melalui batuk, bersin, meludah, dan lainnya. Berdasarkan hasil studi, ukuran droplet 50-100 mikron yang keluar dari mulut / hidung seseorang (yang terbuka, tanpa masker) mudah menempel pada orang lain atau permukaan benda (misal lantai) kurang dari 1 meter.

“ Sedangkan droplet ukuran lebih kecil, tetap dapat berpotensi menempel pada seseorang dalam jarak 1 meter meskipun kemungkinannya jauh lebih kecil. Droplet dapat menempel pada area mulut dan hidung, sehingga penggunaan masker dapat mencegah risiko droplet orang lain menempel pada seseorang, “ jelas Yena.

Masih kata yena saat ini masih sedikit studi yang membahas tentang masker kain. Namun studi dari Davies Ann (2013) bisa memberikan penjelasan bahwa masker homemade (kain) dapat menjadi pertimbangan terakhir untuk mencegah transmisi droplet dari seseorang yang terinfesi, dan lebih baik dibandingkan tidak ada proteksi sama sekali.

“ Perbandingan beberapa bahan masker kain 2 lapis seperti 100% katun, scarf, tea towel, campuran katun, linen dan sutra terhadap paparan aerosol yang mengandung bakteri Bacillus atrophaegus dan Bacteriophage MS2, dan ditemukan hasil bahwa komponen tea towel, linen dan 100% katun memiliki efektivitas menyaring (filter) bakteri kurang dari 50%, dan dari ketiga jenis komponen tersebut, bahan 100% katun memiliki akseptabilitas (tingkat penerimaan) tinggi karena memudahkan untuk bernafas, sehingga bisa didesain untuk lansia ataupun anak-anak, “ ujar wanita yang kini digadang – gadang akan maju dalam kontestasi Pilkada kabupaten Bandung 2020 ini.