GARUT, BuanaIndonesia.com – Wakil kepala sekolah SMP 3 Bayongbong Kartini S.pd.M.pd menyanggah adanya potongan BSM yang dilakukan oleh sekolah. Diakui Kartini Pemotongan BSM untuk pembelian buku paket LKS,sumbangan pengadaan air dan sumbangan perpisahan bukan dari pihak sekolah melainkan hasil musyawarah komite dengan orang tua siswa.
Kartini melanjutkan pihak sekolah mengarahkan adanya kebutuhan yang harus di penuhi oleh murid yakni membeli buku LKS, kebutuhan air bersih dan keperluan perpisahan kelas 9 kepada komite,
” Jadi itu adalah sumbangan, apabila orang tua siswa iklas memberi sumbangan itu bukan kesalahan sekolahan ,” ujar kartini.
Kartini menyayangkan banyak pihak membesar-besarkan soal penjualan buku LKS di sekolahnya,
” Padahal kalau dibandingkan dengan sekolah sekolah yang di kota sepertinya ada pembiaran,salah satu contoh nya di SMPN 2 Garut,disana setiap semesternya selalu ada saja buku yang harus dibeli oleh siswa, itu pengalaman saya waktu anak saya sekolah disana,”ujarnya.
Apapun alasannya dana bantuan sekolah bagi siswa miskin tidak boleh digunakan untuk kebutuhan sekolah dalam hal ini pengadaan air atau mengkondisikan pembelian buku LKS dan sumbangan perpisahan meski itu dimusyawarahkan melalui Komite sekolah. Hal ini diungkapkan Sugiman, Ketua LSM LIDIK.
” Saat ini keberadaan komite sekolah hanya di jadikan kambing hitam untuk menutupi keinginan syahwat pihak sekolah,meskipun ada musyawarah orang tua siswa namun tidak menutup kemungkinan adanya mufakat terlebih dahulu antara komite dan kepala sekolah untuk meluluskan keinginan sekolah merasakan dana bantuan dengan salah satunya menjual buku LKS yang sebesar Rp.120.000/paket. Saya yakini ada keuntungan besar dari penjualan buku itu. ” Kata Sugiman








