
BUANAINDONESIA.COM, JABAR – Pro Kontra Fenomena ‘Numpang Beken ‘ pada popularitas Ridwan Kamil terus menuai opini berbagai fihak. Tak hanya dari pakar politik, tokoh pemuda pun ikut angkat suara terkait fenomena ini
Ketua Pengurus Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat, Iu Rusliana mengatakan popularitas bukan satu-satunya faktor penentu kemenangan dalam Pilkada. Popularitas sendiri harus berbanding lurus dengan kinerja
” Beken saja tdk cukup. Kadang beken tak berbanding lurus dengan kinerja, popularitas tak harus membuat tinggi hati, tetaplah rendah hati dan terus bekerja sebaik mungkin, popularitas tak harus membuat masyarakat mudah terbuai.jadilah pemilih kritis, pelajari rekam jejaknya, lihat karya2nya, lihat siapa pendkungnya, bagaimana pandangan2annya selama ini, ” kata Iu
Iu melanjutkan Parpol harus membenahi pengkaderan..jangan sampai memungut figur-figur populer semata. Boleh jadi dalam pilkada menang, tapi tak memberi efek jangka panjang
” Apalagi bila tokoh yang diangkat itu jadi “gumasep”, setelah terpilih tak mendongkrak kinerja partai.saat partai tak bisa membrikan dkungan, akhirnya meninggalkan partai. Politisi kutu loncat itu tidak elok secara kaderisasi dan ideologi partai dalam jangka panjang.fenomena numpang beken tak perlu terjadi kalau kader parpol hebat-hebat, populer, merakyat, media darling dan bekerja dengan baik bagi rakyatnya di daerah. Ini smacam autokritik bagi parpol dari sisi kaderisasi, ” lanjut dia
Masih kata Iu, numpang beken itu artinya parpol tidak pede dan hanya berpikir pada raihan kemenangan, tidak berorientasi pada prosesnya.
” Cara-cara instan berpolitik yang membuat mesin partai mudah rusak dan pada akhirnya menjadi parpol dikendalikan orang-orang populer yang belum tentu bagus kerjanya dan yg mampu membeli partai, ” paparnya
Dalam jangka panjang. Fenomena numpang beken dari figur emil pun akan sangat berbahaya, merusak soliditas internal partai dan menciptakan ketidakpastian masa depan karir kepartaian seorang kader
” Gaya2 numpang beken ini membuat.kita semakin yakin bahwa kita tak bisa berharap kepada parpol utk melahirlan kepemimpinan politik di masa depan, ” kata dia










