Aher : Isu Kekeringan Di Jabar Menurun

35.869 dibaca

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menegaskan, isu kekeringan yang terjadi dalam sektor pertanian di Jawa Barat tahun 2017 ini menurun dibandingkan dengan tahun 2016 kemarin.

“Kekeringan sangat menurun, tahun 2016 kekeringan melanda 22 ribu hektare, tahun 2017 kekeringan hanya di 3400 hektare, dan dari kekeringan 3400 hektare itu hanya 139 hektare yang fuso,” ujar Aher usai menerima audiensi dari Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) dan Kementan di Gedung Sate Bandung, Senin (6/11/2017).

Advertisement

Aher mengatakan, kekeringan yang terjadi bukan berarti tidak menghasilkan, karena kekeringan itu berakibat produksi pertanian menurun ada yang 25 persen, ada 20 persen, ada yang 70 persen, bahkan ada juga akibat selain kekeringan yaitu fuso gagal panen sama sekali.

“Dan untuk fuso hanya diangka 139 hektare dari 3400 hektare pada tahun 2017,” katanya.

Selain kekeringan, hal yang menjadi turunnya produktifitas pertanian adalah serangan hama yang meningkat pada tahun ini. Meskipun kata dia, bisa diantisipasi oleh pestisida.

“Kalau hama cukup meningkat tapi bisa diantisipasi oleh pestisida, tentu kedepan perlu ada persiapan-persiapan tanam yang lebih bagus, karena kita mensinyalir diantara penyebab hama itu terlalu cepatnya antara panen dan tanam,” ungkap Aher.

Karena dengan terlalu cepatnya antara jangka waktu panen dan tanam mengakibatkan hama tidak terpotong, dan masih meneruskan siklusnya.

“Harusnya hama itu berhenti habis putus ketika panen, sementara panen itu ada jeda waktu untuk menyehatkan, menyuburkan, serta menyegarkan tanah kira-kira satu bulan,” katanya.

Akan tetapi lanjut Aher, kemarin pihaknya melakukan percepatan tanam setelah panen yaitu 15 hari untuk meningkatkan indeks percepatan pertanaman naik.

“Karena kita mengejar indeks pertanaman lebih tinggi yang berakibat positif pada indeks panen yang lebih tinggi pula itu yang kita inginkan, artinya kemarin ada percepatan, hanya 15 hari panen sudah tanam lagi ternyata bagus dari sisi indeks percepatan pertanaman naik, tetapi akibatnya 15 hari itu belum bisa memotong mata rantai hama, masih berlanjut ke masa tanam dan masa panen berikutnya,” jelasnya.

Sehingga kedepan, kita harus menata lebih lanjut, dimana masa panen dan masa tanam itu ada jeda minimal 30 hari atau sebulan, agat siklus hamanya terpotong.

“Jumlah hama nya biasa masih bisa diantisipasi, karena penyebabnya kelihatan, maka tadi siklus pemotongan hama ada bentuk masa dan jarak antara panen yang memadai yaitu satu bulan, itu sudah sangat memadai untuk memutus mata rantai hama dengan cara seperti itu tidak usah pakai pestisida lebih santai dan praktis,” tandasnya.