BUANAINDONESIA.CO.ID, GARUT – Kesadaran masyarakat pengguna jalan dalam menerapkan skala prioritas, cenderung masih minim. Bahkan, tidak jarang laju mobil ambulans yang sedang membawa pasien genting pun, terhambat lantaran pengguna jalan belum menyadari arti sebuah prioritas.
Kondisi tersebut tidak hanya terjadi di kota besar yang lalu-lintasnya memang sudah sangat sibuk. Kendati belum seperti kota besar, tetapi pemandangan itu pun sudah bisa terlihat di Kabupaten Garut.
Ketua IEA Garut, Egi Candra, yang diwakili Koordinator lapangan (Korlap) Indonesia Escorting Ambulan (IEA) atau Indonesia Pengawal Ambulans Korwil Garut, Reza M Ikbal mengatakan, sejumlah masyarakat Garut mencoba untuk ambil bagian guna memastikan laju mobil ambulans tidak terhambat.
” IEA sendiri sejatinya merupakan wadah yang sudah ber-skala nasional. Untuk di Garut sendiri, pada tanggal 22 Juni nanti IEA Korwil Garut tepat berdiri sekitar satu tahun. Kami ada karena peduli melihat Ambulan yang terjebak kemacetan dan diabaikan oleh pengendara lain. Padahal yang di dalam Ambulan sedang darurat,” kata Reza, Minggu 9 Juni 2019.
Meski terbilang baru, akan tetapi keberadaan IEA Garut cukup mendapat respons dari masyarakat maupun pegawai Puskesmas. Dengan adanya koordinasi, membuat mereka lebih mudah dalam melakukan pengawalan.
” Sejak berdiri satu tahun, kami sudah melakukan ratusan pengawalan. Kami hanya mengawal dan membuka jalan untuk ambulans. Jika ambulans keluar daerah, kami melakukan sistem estafet, sesuai SK dari pusat,” ujar dia.
Sementara Penasehat IEA Garut, Mohammad Rofi Nurdin S Kep Ners menyampaikan, dalam melakukan pengawalan, pihaknya melibatkan sekitar beberapa personil. Selain ada anggota yang melakukan tugasnya, ada juga anggota lainnya tetap berjaga-jaga, siapa tahu ada pihak lain yang juga membutuhkan bantuan.
” Kami berharap akan semakin banyak orang yang terlibat dalam aktivitas ini. Dengan demikian, peluang untuk menularkan virus kesadaran menerapkan skala prioritas di jalan raya akan semakin terbuka lebar. IEA akan selalu berinisiatif membuka akses jalan untuk ambulans. Hingga kini, kami terus eksis dengan dibekali berbagai kemampuan dasar menolong korban dan kedisiplinan berlalu lintas,” tandas Ropi.
Ropi menambahkan, di IEA ada pelatihan-pelatihannya juga. Diantaranya dibekali pelatihan P3K, ngebuka jalan, safety riding, pihaknya dibekali bagaimana cara untuk ngebuka jalan yang baik dan benar. Dia juga meminta masyarakat pengguna jalan untuk memberikan ruang jika ada ambulans atau mobil jenazah yang melintas di jalan raya. Sehingga pasien ataupun korban bisa segera mendapatkan pertolongan medis.
” Kepada masyarakat, berilah ruang untuk memberikan jalan kepada ambulans. Karena kita tidak tahu kapan, di mana, kita bisa menyelamatkan nyawa seseorang. Kita ikhlas melakukan semua itu. Semuanya demi kemanusiaan,” ujar Penggiat Anti Narkoba yang juga seorang perawat yang bertugas di RSUD dr Slamet Garut tersebut.
Terpisah, melalui media Buana Indonesia, Kepala IGD Puskesmas Wanaraja, Eka WR, sempat menyampaikan ucapan terima kasih kepada petugas IEA yang telah membantu membuka jalan saat dirinya membawa pasien menuju RSUD dr. Slamet.
” Keren kang, mereka bekerja tanpa pamrih. Tapi benar-benar sangat membantu kami saat membuka jalan ketika ambulance yang kami bawa terjebak ditengah kemacetan sekitar Maktal,” tandas Eka kepada Buana Indonesia.










