Berawal Dari Facebook, 16 Anak Jadi Korban Dukun Cabul

10.417 dibaca

BUANAINDONESIA.CO.ID, GARUT – Setelah mendapatkan keterangan yang cukup, Polres Garut akhirnya menggelar Pers Rilis, Rabu 15 Mei 2019 di Mapolres Garut terkait kasus dugaan tindak pidana persetubuhan atau perbuatan cabul terhadap anak di dibawah umur dengan tersangka RGS ( 28 ) warga kampung Cisalak RT 004, RW 005 desa Sukajaya kecamatan Cisewu kabupaten Garut.

Kepada Media Kapolres Garut Ajun Komisaris Besar Polisi ( AKBP ) Budi Satria Wiguna menyampaikan, pertemuan antara korban dan tersangka berawal dari perkenalan di Media Sosial Facebook, dengan modus bisa meramal dan mengobati secara spiritual ( paranormal atau Dukun ).

” Melalui percakapan di Chating FB tersangka mengaku bisa membantu kesulitan korban yang kebanyakan curhat dengan solusi ritual KIAS dan PANGASAL”, kata Kapolres Garut dalam penjelasannya.

Lanjutnya, ritual – ritual itu hanya sebagai sarana mengelabui para korban untuk perbuatan cabul tersangka, dari hasil penyelidikan dan keterangan para saksi korban, tersangka telah memenuhi unsur dugaan tindak pidana persetubuhan dan atau perbuatan cabul terhadap anak di bawah umur.

” Dari Hasil pemeriksaan tersangka dan saksi korban, tersangka kami jerat dengan pasal 81 UU RI No 35 Tahun 2014 dan pasal 82 UU No 23 Tahun 2014 dengan ancaman hukuman penjara minimal 5 Tahun dan maksimal 15 Tahun penjara” terang Kapolres Budi Satria Wiguna.

Sementara itu Bupati Garut h Rudy Gunawan merasa prihatun adanya kasus pencabulan terhadap anak – anak di bawah umur yang terjadi di Cisewu.

” Saya merasa prihatin adanya kasus pelecehan seksual ini” ungkap Bupati Garut.

Dikatakan Bupati, Pemkab mengapresiasi kinerja Polres Garut yang cepat menangani kasus ini dan menahan tersangka, proses ini harus di usut tuntas, tetapi kita harus bisa melindungi korban – korban yang masih anak – anak, karena akan menyangkut masa depan nya nanti.

” Tentunya pelaku harus di proses hukum yang berlaku, tetapi saya berharap para korban yang masih di bawah umur harus kita lindungi jangan terlalu di ekspos, kasihan masa depannya nanti bagi para korban”, harapnya.

Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak ( P2TP2A ) Hj Diah Kurniasari Rudy Gunawan mengatakan, seluruh korban tersangka saat ini dalam perlindungan dan pengawasan P2TP2A.