BANDUNG, BuanaJabar.com – Moh Zezen Zainal M, reporter harian Tribun Jabar dan Tribunnews.com, diintimidasi sejumlah orang yang mengaku dari sebuah ormas gara-gara memberitakan tentang Pekan Olahraga Nasional ( PON) Jawa Barat. Terkait itu, redaksi BuanaJabar.com menerima pesan singkat dalam sebuah grup Whatsapp. Berikut isi pesan singkat yang menjelaskan kronologis pengancaman yang diterima seorang jurnalis itu.
Saya Moh Zezen Zainal M, reporter harian Tribun Jabar dan Tribunnews.com. Saya sehari-hari bertugas di desk Pemprov Jabar ( Gedung Sate ). Kejadian ini bermula saat saya membuat berita pada hari Jumat, 16 September 2016 dan tayang pada koran cetak Tribun Jabar edisi Sabtu, 17 September 2016. Berita tersebut menjadi head line (HL) Tribun Jabar di halaman 1 dengan judul “Menpora Ingatkan PB PON”. Hati-hati Penggunaan Dana. Jangan Sampai Kasus PON Riau Terulang.
Pada Sabtu, 17 September 2016 siang sekitar pukul 10.59 WIB, saya menerima pesan singkat (SMS) dari seseorang dengan nomor yang tidak saya kenal ( sebut saja Mr A). Dalam SMS itu, dia menanyakan keberadaan saya, seperti seorang yang akrab dengan saya. Lalu beberapa menit kemudian nomor tersebut menelpon ke nomor saya, tapi tidak terangkat karena ponsel saya sedang dicas. Ketika melihat ada panggilan tak terjawab dan SMS, saya berinisiatif menelpon nomor bersangkutan namun tidak dijawab.
Tak berselang lama nomor itu kemudian mengirim beberapa SMS ancaman dan meminta saya tidak lagi memberitakan hal-hal sensitif tentang PB PON seperti penggunaan dana dan lain – lain. Dia si pemilik ponsel juga melontarkan beberapa fitnah. ( Nomor dan bukti sms masih saya simpan).
Pada pukul 14.26 WIB di hari yg sama, saya juga mendapat SMS dari nomor lain. Dia memperkenalkan diri sebagai Mr X (orang yg berbeda dengan nomor yg menghubungi saya pertama). Dia mengaku sebagai anggota LSM. Dia meminta saya mengangkat telepon.
14.37 WIB Mr X tersebut menelpon saya. Sy angkat. Dalam perbincangan tersebut dia menyatakan keberatannya dengan berita yang saya buat yg tayang pada hari Sabtu itu. Dia meminta saya untuk bertemu dengan dia dan teman-temannya yang menurut dia tersinggung dengan berita yang saya buat. Dia jg mengancam akan mendatangi saya. Dia mengaku sudah tahu tempat tinggal saya. Dia bahkan mengancam akan membuat saya kapok bila masih terus membuat berita-berita yang mengkritisi PB PON.
Dia dan beberapa orang yg berada di belakangnya (terdengar melakui suara d telepon) mengancam akan menghabisi saya dan karir saya di Tribun Jabar maupun desk tempat saya bertugas sekarang di Pemprov Jabar.
Pukul 15.32 WIB kembali masuk panggilan saya dari nomor berbeda lagi. Orang yg menelpon ini mengaku sebagai Mr Y dari sebuah ormas. Singkatnya, dalam perbincangan itu Mr Y yg mengaku bersama Mr X dan Mr A kembali menegaskan dan meminta saya untuk menghentikan pemberitaan-pemberitaan yg mengkritisi PB PON apalagi menulis hal-hal sensitif. Kembali ancaman pun kembali dilontarkan.
Sebagai seorang jurnalis yg memahami aturan dan kode etik jurnalistik, saya menyarankan kepada mereka dan pihak-pihak yg berkeberatan yg mereka klaim untuk menyampaikan hak jawab mereka kepada redaksi Tribun Jabar. Sebab berita yg sudah tayang, menjadi tangung jawab redaksi. Namun mereka malah mengancam bila diminta datang ke Kantor tribun Jabar, maka mereka mengaku tidak menjamin bila datang dengan kekerasan dan tidak baik-baik.
Saya pun dalam beberapa perbincangan dengan 3 orang berbeda itu, sempat menanyakan mengapa mereka keberatan. Karena saya tidak merasa memberitakan mengenai ormas atau LSM mereka. Yanv saya beritakan hanya berita normatif mengenai warning dari Kemenpora kepada PB PON agar hati-hati menggunakan dana PON sehingga kasus PON Riau tidak terulang di PON Jabar.
Ancaman baru berhenti sekitar pukul 16.30 WIB setelah saya mematikan ponsel saya. Keesokan harinya yakni pada Minggu, 18 September 2016 dan Senin, 19 September 2016 SMS dan telepon semoat mereda. Saya sempat menganggap berbagai ancaman yg dilontarkan hanya sebatas presure atau gertakan.
Namun pada Selasa, 20 September 2016 ini sekitar pukul 10.30 WIB saya mendapat kabar dari istri saya, ada dua orang pria berbadan tinggi dan bertato mendatangi tempat tinggal saya di daerah Soreang Kabupaten Bandung.
Dua orang yg penampilannya mirip preman itu (menurut istri saya) mengintimidasi istri saya yg sedang seorang diri berada di rumah. Mereka menanyakan keberadaan saya dan menanyakan kapan saya pulang dan berada di rumah.
Akibat intimidasi dan ancaman yg dilontarkan kepada istri saya tersebut, istri saya mengalami trauma berat sampai gemeteran saat saya telepon. Dia menceritakan kejadian yg dialaminya kepada saya sambil nangis dan gemetaran.
Saya menilai kejadian ancaman dan intimidasi ini sdh keterlaluan dan sangat berlebihan karena sudah menyentuh dan menimpa keluarga saya.
Karena sdh mengarah kepada tindakan pidana, saya dengan didukung penuh Redaksi Tribun Jabar akan melaporkan kejadian ancaman dan intimidasi yang saya dan keluarga alami ini ke pihak kepolisian (Polda Jabar dan Polres Bandung) karena sudah mengancam jiwa dan mengusik ketenangan hidup kami. Kami mengecam tindakan premanisme yang dilakukan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab ini. Apalagi kebebasan pers diatur dan dilindugi oleh undang-undang.
Bahkan akibat rasa trauma dan ketakutan luar biasa yg dialami istri saya, saya terpaksa harus mengungsikan keluarga saya ke tempat yg aman untuk waktu yang lamanya tidak ditentukan agar bisa kembali memulihkan trauma yg keluarga saya alami. Saat ini saya dan Tribun Jabar tengah mempersiapkan laporan.
Sebelumnya Tribun Jabar mengabarkan berita berjudul Kasus PON Riau, Jangan Sampai Terulang di Jabar
Kemenpora Mewanti-wanti PB PON. Dalam berita itu disebut Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) mengapresiasi Panitia Besar Pekan Olahraga Nasional (PB PON) XIX dan Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XV 2016 Jawa Barat yang telah mempersiapkan penyelenggaraan multieven olahraga empat tahunan di Jawa Barat dengan maksimal. Hal tersebut disampaikan oleh Menpora Imam Nahrawi melalui Deputi Bidang Olahraga Kemenpora Gatot S Dewa Broto.
Namun Gatot mewanti-wanti agar PB PON agar jangan sampai ada penyelewengan atau pelanggaran hukum baik pada masa persiapan seperti pembangunan venue, pengadaan-pengadaan barang maupun selama masa penyelenggaraan PON XIX. Kemenpora, kata dia, tidak ingin kasus-kasus hukum terjadi pascapelaksanaan PON XIX Jawa Barat.
“Kita tidak ingin ada kejadian seperti kasus PON Riau empat tahun lalu. Naudzubillah, jangan sampai terulang di Jawa Barat,” kata Gatot saat menggelar konferensi pers di Media Center Utama PON XIX, Trans Luxury Hotel Bandung, Jumat, 16 september 2016 lalu.










