Bupati : Kabupaten Garut SOS Kekeringan

2.380 dibaca

BUANAINDONESIA.CO.ID, GARUT – Kekeringan yang kini melanda di seluruh wilayah kabupaten Garut sudah sangat mengkhawatirkan, untuk itu Pemkab Garut harus segera mengambil sikap untuk menangani masalah kekeringan ini.

” Kekeringan ini sudah sangat menyebar,  jadi kami menyatakan SOS terhadap kekeringan yang melanda seluruh kabupaten Garut Saat ini yang sangat merata di semua kecamatan yang ada di Garut, untuk itu Pemkab Garut akan segera mengambil sikap “, kata Bupati Garut H Rudy Gunawan sebelum memimpin Forum Group Disccution ( FGD ) dengan Dinas Pertanian, SKPD terkait dan para Camat serta Kepala Desa di Gedung Pameungkang Pendopo Garut, Rabu 11 September 2019.

Dikatakan Bupati Garut, penangan saat ini diutamakan di daerah area produksi terutama kebun dan sawah yang saat ini sudah sekitar 1000 – 2000 Hektar.

” Untuk itu kita akan membahas dalam FGD ini bagaimana jalan keluar untuk mengatasi kekeringan saat ini dan kedepannya” ujar Bupati Garut.

Masih kata Bupati, saat ini Pemkab Garut telah menemukan beberapa sumber air baru yang akan kita olah dan bangun untuk memenuhi kebutuhan air saat terjadi lagi musim kekeringan.

” Insyaallah tahun depan kita bisa menggunakan 20 sumber air baru, tetapi untuk mengoptimalkan sumber air itu tentunya membutuhkan investasi yang sangat besar, Pemkab Garut akan menyediakan anggaran RP 10 Milyar untuk membangun itu” terangnya.

Saat ini terang Rudy Gunawan, ada beberapa sumber air baru yang dapat digunakan dibeberapa kecamatan diantaranya di Malangbong, Pakenjeng, Banjarwangi, Singajaya dan Cisompet.

” Ada 10 sampai 20 titik air, tapi yang besarnya ada sekitar 5 titik. Apabila optimal kita bangun, tahun depan kita bisa menyelamatkan petani hampir 700 Hektar apabila musim kemarau kembali melanda kabupaten Garut” tutur Rudy Gunawan.

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian Beni Yoga mengatakan, apabila optimalisasi sumber air baru bisa dibangun, itu akan memberikan dampak positif bagi hasil panen petani.

” Dengan asumsi penyelamatan lahan 700 H, akan ada penambahan produksi hampir 5000 ton, perencanaan pembangunan optimalisasi sumber air itu sudah masuk, tinggal menunggu hasil pembahasan anggaran”, ucap Beni Yoga.

Saat ini sambung Beni, ada ada 1200 H lahan yang mengalami Fuso dengan kondisi mutlak kekeringan karena tidak ada air.

” Nah sebetulnya, sebelum masa tanah petani sudah diingatkan bahwa dari data BMKG jangan menanam padi dan beralih ke Palawija, sehingga untuk gagal panennya kecil”, pungkasnya.