Gerindra Depak Demiz – Syaikhu. Ini yang Akan Terjadi

7.975 dibaca

BUANAINDONESIA. CO. ID, BANDUNG – gerindra cabut dukungan terhadap Deddy Mizwar dan Akhmad Syaikhu. Pemberitaan ini direspon sejumlah kalangan. Analis menilai jika tidak menemui kata sepakat dan kesiapan figur, Gerindra akan berat memenangkan Pilkada Jabar. Kekalahan di Pilkada Jabar juga akan menjadi pukulan telak bagi elit dan kader partai itu. Dicabutnya dukungan ini merupakan langkah cepat Gerindra untuk mensiasati pemenangan kontestasi politik bergengsi ini. Demikian dikatakan Analis dan pengamat politik senior Aliansi Masyarakat untuk HAM, Demokrasi dan Keadilan Hukum ( Amandemen) , Dr Yusuf Hermawan

” Dicabutnya dukungan ini juga merupakan lampu hijau bagi semua figur yang memiliki niatan untuk maju dalam Pilkada Jabar nanti. Gerindra juga sudah sadari ini. Hal Ini kan dari awal sudah berkali – kali pihak kita ungkapkan juga, bahkan kita komunikasikan baik kepada elit maupun rekan – rekan media. Respon aspirasi bawah. Jangan hanya memperhatikan aspek keinginan elit. Wilayah – wilayah populer juga tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Di luar Demiz, Dedi Mulyadi dan RK masih banyak figur yang masuk kategori dan kompeten. Jika kita kawinkan popularitas dengan kesiapan figur ditambah bumbu tidak resistensi, clear and clean itu akan menjadi pasangan yang luar biasa. Jangan lupa komitmen figur juga harus bisa dijadikan garansi bagi partai dan masyarakat, ” kata Yusuf

Advertisement

Lanjut Yusuf, jika partai jeli melihat masih ada figur – figur yang menjanjikan untuk menjadi sosok pemimpin yang ideal bagi Jabar

” Jika ingin berbicara jujur, apa partai mau dengan figur yang tidak memiliki komitmen? Silakan tanya elit – elit. Mau sampai kapan kita iming – imingi rakyat? Populer penting, kalau tidak komitmen buat apa? Kalau mencla – mencle buat apa? Kalau hanya asyik dengan kepopulerannya saja buat apa? Maka itu PR besar buat pelaku politik untuk bisa mengawinkan hal – hal tadi. Populer, tidak memiliki resistensi besar, komitmen, kesiapan figur, clear and clean, ” sambung yusuf.

Menjawab pertanyaan nama – nama yang dinilai memiliki kriteria yang dimungkinkan siap mengabdi bagi warga Jabar, Yusuf menyatakan setidaknya ada 5 nama lain diluar 3 figur yang kini dianggap menjadi tren.

” yang mulai kepermukaan kan banyak ya. Tapi kita mencatat ada 5 ya. Ini bisa jadi calon Gubernur bisa juga menjadi cawagub bisa juga dipasangkan Ada Desy ( Desy Ratnasari), Agung Suryamal, Aa Gym, Dede Yusuf, Iwan Sulandjana. 5 ini kita sudah kita lihat dari berbagai aspek dan efek yang dimungkinkan akan timbul. Tapi kita masih harus juga dorong nama – nama lain. Agar lebih banyak pilihan. Desy populer, cerdas mewakili perempuan. Konstituennya juga tidak sedikit. Agung itu dari tingkat pedagang kecil sampai konglomerat sudah declare akan dukung. Punya background pesantren. Lalu Dede Yusuf, siapa yang gak kenal Dede Yusuf. Pengalaman dalam birokrasi dan parlemen. Aa Gym juga. Kalangan ulama punya jaringan luas. Dia ulama modern. Nah pak Iwan Sulandjana. Ketua Demokrat Jabar. Basic militer kuat. Mantan panglima, tentunya juga punya pengalaman kewilayahan. yang pasti semua pituin.  Keterwakilan daerah masuk. Itu garis besarnya. Nanti kita akan paparkan lebih dalam. Kalau sekarang dipaparkan semua panjang dong, ” jelas Yusuf.

Paparan Yusuf diperkuat beberapa alasan. Masih kata Yusuf, politik tidak bisa mengesampingkan aspek ekonomi. Kedua aspek yang selalu harus saling mengikat.

” Benar kita tidak menampik adanya sponsorship dalam setiap Pilkada. Ada motif ekonomi. Itu sah saja. Namun perlu juga diperhatikan motif ekonomi juga jangan malah jadi bumerang bagi pasangan calon. Saya ambil contoh, misal calon A, dia birokrat berpasangan dengan artis misalnya, lalu tempur di Jabar yang tidak sedikit membutuhkan logistik, itu akan mengundang tanya kan, siapa sponsor, siapa-siapa pemilik kepentingan ekonomi itu. Coba anda jujur, mengundang tanya tidak?. Tapi kalau memang ada pelaku ekonomi disana yang jadi pasangan, ya wajar. Tapi sekali lagi pelaku ekonomi juga bukan satu – satunya modal. Bukan sembarang pelaku ekonomi. Tapi pelaku ekonomi yang memiliki konpetensi. Makanya kita masukkan clear and clean. Benar – benar clear, didukung internal sebagai pelaku usaha, didukung juga eksternal pelaku usaha. Kalangan ulama misal, kalangan budayawan misalnya bahkan sampai tataran pelaku usaha tingkat bawah seperti PKL dan pedagang kecil. Partai harus jeli, ” tambah Yusuf.

Sebelumnya dikabarkan Gerindra mencabut dukungan pasangan Deddy Mizwar ( Demiz) dan Akhmad Syaikhu untuk tarung di Pemilihan Kepala Daerah ( Pilkada) Jawa Barat. Ketua DPD Gerindra Jawa Barat, Mulyadi mengatakan pencabutan dukungan ini ditengarai karena hingga saat ini Demiz tidak kunjung mendatangi sekretariat DPD Gerindra Jabar untuk membuat kartu tanda anggota ( KTA) sebagai salah satu syarat dukungan.

” Hari ini ( senin,  11 September 2017 ) saya cabut pernyataan bahwa Gerindra sudah setuju dengan pasangan Demiz Syaikhu. Awalnya kami yang menyatakan mendukung, kami juga yang harus mencabutnya. Soal Pilgub Jabar, sampai hari ini belum ada progres yang menggembirakan, terkait kandidat maupun menyangkut kerja sama dengan PKS sebagai partai yang berencana berkoalisi dengan Gerindra,” kata Mulyadi.